Movie Review :
Setelah “Garuda di Dadaku” Satu lagi film anak-anak plus olah-raga turut meramaikan musim liburan kali ini. Judulnya pendek saja “KING”, film cerita pertama di dunia yang bercerita tentang olah-raga Bulutangkis. “KING” adalah karya perdana dari sutradara Ari Sihasale, seorang aktor senior sekaligus produser yang sukses menelorkan “DENIAS – Senandung di Atas Awan” dan “Liburan Seru”. “KING” diproduksi oleh Alenia Productions yang didirikan oleh Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Dua sejoli ini aktif membuat film, setelah sukses dengan “Denias”, kini mereka menghadirkan “KING” yang kisahnya terinspirasi legenda bulutangkis Indonesia, Liem Swie King (28 Februari 1956 - ). Walaupun memang ada banyak deretan nama-nama legenda Bulutangkis di Indonesia, seperti Rudi Hartono, Tan Joe Hok, Iie Sumirat, Christian Hadinata, Ade Chandra, Tjun Tjun, Johan Wahyudi, Icuk Sugiarto, Alan Budi Kusuma, Susi Susanti,, dan lain-lain, namun hanya ada satu yang mempunyai ciri khas yang dikenang sampai sekarang, yaitu smash dengan cara melompat (jumping smash) yang kemudian dikenal dengan sebutan “King Smash” yang hingga kini masih melegenda dan ditiru oleh pemain-pemain dunia.
Film “KING” ini mengemas drama keluarga sarat dengan pesan pendidikan, perjuangan, dan nasionalisme. “KING” mengisahkan perjuangan dalam prestasi olah raga dari seorang anak dari desa, dengan kemauan dan latihan yang keras akan membawakan hasil yang heran. Senada dengan film “Garuda di Dadaku”, film “KING” ini disamping bertema olah-raga juga tentang persahabatan, suatu persahabatan ala “Hamlet dan Horatio“. Suatu jenis persahabatan yang dapat mengungkapkan kepada kita bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian. Setiap kesuksesan, apapun jenisnya selalu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitarnya yang terdekat.

















