Jul 25

Akhir pekan ini rencana untuk pergi berbelanja dengan mengajak putri bungsu saya merupakan waktu yang kami berdua tunggu-tunggu bersama. Memang sudah lama tak mengajaknya berbelanja oleh karena kesibukan saya.

Sesudah sarapan pagi dengan blueberry pancake yang saya buat sendiri, bersiap-siaplah kami berdua untuk berangkat. Putri saya sangat senang dan saya sendiri pun turut senang melihatnya. Rencana pun saya susun dengan tujuan pertama adalah fotokopi untuk keperluan book signing bulan depan di perspustakaan lokal, kemudian langsung berbelanja. Saya katakan juga kepadanya bahwa setibanya dari berbelanja, akan saya ajak ke perpustakaan lokal untuk mengembalikan buku-buku yang dipinjam sekaligus menyerahkan beberapa flyer book signing  ke direktur perpustakaan.

Di tengah jalan, di perempatan lampu merah sekitar 200 meter dari rumah, tiba-tiba mobil yang saya tumpangi mendadak mogok. Saya hidupkan kembali dan berjalan lagi tetapi mogok lagi semenit kemudian, begitu selanjutnya beberapa kali terulang hingga akhirnya saya putuskan untuk kembali pulang. Saat memutuskan akan memutar mobil menuju rumah, mesin mobil mogok terus beberapa kali hingga saya khawatir tidak akan sampai ke rumah dengan segera. Handphone pun tertinggal di rumah sehingga saya pun tak dapat menelepon untuk memberitahukannya kepada suami. Saya katakan kepada putri saya bahwa pagi itu rencana untuk berbelanja saya batalkan yang membuatnya menjadi kecewa.

Dengan menarik napas panjang, saya berharap mesin mobil akan segera hidup kembali. Dengan hanya mengalami dua kali mogok selama perjalanan pulang, sampailah kami berdua di rumah dengan selamat. Tanpa menutupi hati yang kesal, saya ceritakan keadaan mobil tersebut yang memang bukan milik kami. Mobil tersebut adalah sebuah mobil pinjaman dari seseorang yang sedang memperbaiki mobil suami saya. Sedangkan mobil saya sendiri sudah terjual dengan harga yang murah meriah karena kerusakan parah yang memakan biaya lebih banyak untuk memperbaikinya daripada harga mobil itu sendiri. Maka dengan penuh keikhlasan hati, saya harus merelakan mobil tersebut terjual dengan harga yang sangat rendah.

Rencana semula yang tersusun rapi pudar dan putri bungsu saya menjadi sedih. Melihat keadaan tersebut, suami saya pun memutuskan untuk mengambil mobilnya yang memang sudah selesai diperbaiki dan sebelumnya ia berencana untuk mengambilnya hari Minggu, keesokan harinya. Dengan penuh harap, saya berpikir rencana semula akan terwujud sepulang suami mengambil mobilnya.

Ternyata saya kembali menyesal. Suami pulang dengan membawa kabar bahwa rem mobil masih belum bekerja dengan sempurna sehingga ia sangat khawatir apabila saya yang akan mengendarainya sendiri, bahkan ia berkata akan mengantar saya ke tempat kerja minggu depan selama ia belum mendapatkan mobil penggantinya. Hal itu mengartikan bahwa ia harus mengantarkan saya berbelanja dan ia menyanggupinya setelah ia beristirahat siang.

Sinar matahari sangat terik di musim panas hingga sampai pukul tujuh malam. Kalau di Indonesia saat itu matahari sudah menenggelamkan dirinya tetapi tidak di musim panas di Amerika. Matahari masih bersinar dengan megahnya, menyengat kulit seperti layaknya antara pukul sebelas hingga pukul dua siang. Saya berpikir pasti suami saya akan membatalkan niatnya mengantar berbelanja dan ternyata memang benar perkiraan saya. Hati saya bertambah kesal tapi kemudian saya ingat bahwa esok adalah hari Minggu, maka saya bertanya apakah ia akan mengantarkan saya berbelanja setelah sepulang gereja. Ia pun berkata bahwa itulah rencananya, bahkan ia pun akan pergi ke gereja bersama kami berdua.

Di lantai atas kegundahan hati saya masih terasa. Dalam hati saya berkata mengapa masih saja menjadi gundah, bukankah suami sudah bersedia akan menemani berbelanja, bahkan akan pergi bersama ke gereja, sebuah keinginan lama saya akan terwujud setelah ia lama absent dikarenakan pekerjaannya. Mengapa saya tidak bersyukur?

Tiba-tiba hati saya ingin online dan mengingatkan bahwa sudah lama saya tidak memposting lembaran-lembaran pelajaran Sekolah Minggu putri bungsu saya di blognya. Saat itulah tanpa menunda-nunda, saya ambil sebuah lembaran pelajaran Sekolah Minggu yang tertumpuk di atas meja beberapa bulan lalu. Ternyata hati saya sangat terhibur dengan tulisan-tulisan yang tercantum di atas lembaran-lembaran tersebut. Sambil menuliskannya kembali di blog, saya membaca ulang. Memang benar ternyata tulisan-tulisan yang baik memberikan obat mujarab untuk hati, hingga akhirnya saya sendiri menuliskannya di sini.

Tak lama putri bungsu saya datang dengan membawa sekotak makanan, menunjukkannya kepada saya bahwa ia mendapatkannya dari ayahnya. Sepuluh menit kemudian, suami pun datang dengan membawa sepiring makanan yang baru saja dia beli tanpa sepengetahuan saya. Rupanya secara diam-diam ia ingin memberikan sebuah kejutan saat mengetahui kegundahan hati saya. Apakah selanjutnya saya masih tetap bergundah hati? Tentu tidak. Hati saya berubah menjadi senang. Senang oleh karena esok hari suami akan pergi ke gereja bersama, senang oleh karena saya akan diantar suami berbelanja—kegiatan yang sudah lama tidak dilakukan bersama sejak saya mulai bekerja, senang oleh karena saya membaca sesuatu yang memberikan rasa suka cita dan kekuatan hati, senang oleh karena saya dapat menuliskan sesuatu untuk dibagikan kepada sesama setelah lama absent oleh karena kesibukan menyelesaikan penulisan novel, senang oleh karena saat merasa lapar, suami datang dan membawakan sebuah piring berisi makanan. (*)

Tulisan ini telah ditayangkan juga di HOKI.

Jul 16

Bagi yang sudah membaca blog saya, pasti paham betul jika saya sering mengedit tulisan yang sudah saya post sendiri. Jangan salahkan saya dulu. Fasilitas pada blog engine memungkinkan itu semua, jadi kenapa tidak? Sebab, tentu ada alasannya sampai saya lakukan itu. :) Dan kali ini saya memang tergelitik lantaran teringat kembali ulah saya pada satu entri itu.

Pada saat itu, saya memikirkan tentang rasa khawatir. Waktu itu saya berpikir, adalah wajar jika saya mengkhawatirkan sikap saya yang belum seperti yang semestinya. Maka kemudian saya sempat menuliskan: “Mestinya kita khawatir jika rasa malas untuk bersaat-teduh tiba-tiba menyergap, atau rasa kantuk lebih berkuasa saat itu. (Bagaimana bisa merealisasikan niat baca alkitab setahun?)” Tapi pada akhirnya saya edit, karena takut akan menimbulkan salah arti.

Setelah saya ingat-ingat, saya seperti mendapatkan 2 versi kekhawatiran. Pertama adalah kekhawatiran akan pemeliharaan, suply kebutuhan kita dari Bapa di surga. Versi pertama inilah yang membuat saya pertama kali berpikir, “Tidak semestinya kita khawatir!” karena dalam hal ini kita diminta untuk tidak mengkhawatirkan apapun. Memang, di dunia ini apa saja mungkin terjadi termasuk yang tidak kita inginkan. Tapi cobaan tidak diberikan melebihi kesanggupan kita, kan? Terjebak dalam kondisi seperti kelaparan, kehausan dan kekurangan, Tuhan sering menginginkan kesadaran kita sebagai anak untuk meminta dengan percaya.

Read the rest of this entry »

May 16

World.. face it.

I am a thinker-type person.
I love to analyse things, understand and uncomplicate any complicated matters and misteries.
Focus ..  is part of my traits.

But what will happen if suddenly I am not able to think anymore?

Read the rest of this entry »

Apr 22

Have you ever stumbled upon a situation where you cant decide what to do because of the uncertainty in the future?
And then.. bang! Here comes the ‘What if‘ questions.

Although this might sound simple, but these questions have been a hindrance in the growth of many Christians.

Allow me to listing my own:

  • What if the car that I am going to buy is a ‘petrol-depleter’?
  • What if this project does not go according to the plan?
  • What if she thinks that I am a boring person?
  • What if I running up the wrong stairs in my career?
  • What if I get an accident?
  • What if the food that I get sick because of that food from my friend?
  • What if somebody steal my notebook?
  • What if the decision that I make is completely wrong?
  • What if I dont have time to do everything?
  • What if my future is not as good as I want it to be?
  • What if people talking behind my back?
  • What if God forsakes me? (yes, even this sometimes)
  • What if I get robbed on my way home?
  • What if they make fun of me when I’m trying to introduce myself to them?
  • What if my life stucks at this situation?
  • What if my kids are rebellious and wont accept God?
  • What if this…
  • What if that…

Read the rest of this entry »

Apr 6

Barbershop = Tempat gunting rambut

Saya punya waktu 1 jam untuk memangkas rambut yang sudah panjang ini sebelum aku meeting.. semoga orang ini cukup tangkas dalam melakukan tugasnya

Itulah yang ada di benakku tatkala aku memasuki barbershop itu.
Aku melihat seorang perempuan setengah baya sedang menggunting rambut seorang tua yang tampangnya bak veteran perang Gallipoli di Turki.
Sembari menunggu aku kerap kali melihat jam di dinding memperhatikan gerakan jarum detik dan menit dengan cemas.
Kadang mengharapkan suatu kekuatan untuk memanipulasi waktu seperti Hiro Nakamura dari serial film Heroes, tapi tentu saja itu hanya angan-angan belaka.

Read the rest of this entry »

« Previous Entries