Amsal 3:5
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu,
dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
Anak : Ayah, aku minta sepeda motor dunk
Ayah : Tidak nak, belum waktunya
Anak : Tapi aku ingin menggunakannya. Aku melihat Kak Rony menggunakannya ke sekolah, aku ingin memiliki sepeda motor sendiri yah.
Ayah : Dia sudah berumur 18 tahun nak, lagipula dia dapat mengemudikannya. Nanti saja saat kamu sudah cukup umur dan mampu menyetir sepeda, ayah belikan sepeda motor untukmu. Ok?
Anak : Ayah jahat! (berlalu sambil mengomel)
Suatu percakapan kecil antara ayah dan anak di atas memang terlihat lucu. Tapi kadang kita tidak sadar telah menjadi anak tersebut. Kita sering meminta ini dan itu pada Bapa kita. Kita menginginkan sesuatu terjadi secara ekspres, seperti turun dari langit. Saat Bapa kita tidak mewujudkannya, kita lalu marah, sakit hati dan kecewa. Saya pernah meminta sesuatu pada ayah saya, namun dia tidak memberikannya untuk saya. Saya benar-benar marah saat itu. Bahasa gaulnya, ngambek. Padahal sekarang, saat saya mengingat masa itu, saya justru menyesal karena telah ngambek. Saat itu saya masih kecil. Belum waktunya saya dipercaya untuk memiliki barang tersebut. Jika dipikir – pikir pun, jika saya menjadi ayah saya, saya tidak akan memberikan barang itu pada anak saya saat dia seumur saya. Namun apa yang terjadi saat itu? Saya marah.
Berbeda kejadiannya apabila saat itu saya taat pada ayah saya. Saat saya patuh dan percaya padanya, saya tidak mungkin marah padanya. Saya tidak mungkin marah karena saya tahu bahwa keputusannya pasti untuk kebaikan saya. Toh dia ayah saya. Mana ada ayah yang ingin anak yang dikasihinya menderita. Seorang ayah pasti telah menimbang – nimbang dengan baik apa yang akan diberikan pada anaknya. Seorang ayah pasti juga mengerti sebatas mana kemampuan anaknya. Bayangkan saat kita memiliki anak lalu kita berusaha memberi yang terbaik untuk dia, tetapi dia tidak patuh, malah marah – marah dan membenci kita. Kita pasti merasa sedih dan sakit. Di satu sisi kita ingin menyenangkan dia, namun di sisi lain, dia tidak mau patuh, tidak mau disenangkan. Dia tidak mau menunggu sampai pada saatnya dia mampu memiliki hal itu.
Begitu juga dengan Bapa kita. Dia mengerti sebatas mana kemampuan kita. Dia mengerti kapasitas kita. Hal yang kita perlukan ialah hati yang percaya dan taat pada-Nya. Saat kita percaya padanya, kita tidak akan berkeluh kesah. Dia tidak diam, kita tahu itu. Namun seringkali kita meremehkan Dia dan menganggap bahwa Dia tidak melakukan sesuatu untuk kita. Padahal mungkin Dia tahu bahwa kehidupan kita akan menjadi lebih buruk apabila kita memiliki sesuatu tersebut sekarang. Dia tahu. Hal yang sebenarnya sepele namun kita sering tidak menyadarinya. Dia menunggu saat yang tepat untuk memberikan sesuatu bagi kita. Sudahkah kita percaya pada-Nya?
















