Aku menamainya: Jalan Cinta.
Bukan aku yang memberinya nama demikian. Tapi orang-orang itulah yang mengatakannya padaku. Kata mereka, Jalan Cinta sudah ada sejak mereka masih kecil. Sejak jiwaku dititipkan pada janin ibuku. Saat itu, penasaran aku seperti apa yang namanya Jalan Cinta. Kubayangkan Jalannya bersih. Tiada debu sama sekali. Di kanan kiri ada pepohonan rindang, karenanya tiap tarikan nafas jadi penuh rasa syukur. Tapi pepohonan saja tak cukup. Pasti ada bunga-bunga, yang berwarna-warni, yang beribu-ribu pula jumlahnya. Siang terasa nyaman, malam terasa damai. Persis seperti Surga. Tempat sebelum jiwaku ngendon dalam diri seorang manusia yang bernama perempuan. Ibuku.
Tetapi kenyataannya, Jalan Cinta itu rupanya seperti jalan biasa. Bersih juga tidak. Anak-anak debu dapat bermain sambil berlarian kesana kemari. Tiada pohon rindang yang bisa kusapa, hanya satu dua pepohonan menunggu datangnya musim semi. Dan lupakan tentang bunga. Aku tak tahu mengapa jalan itu dinamai Jalan Cinta.








