Jul 30

Image

“Tidak ada Juruselamat dunia, tidak ada Tuhan!” demikian secuplik lyric lagu The Internationale, yaitu lagu wajib kaum komunis yang menolak keberadaan penguasaan Ilahi. Agaknya mustahil apabila ada pemerintah dengan sistem komunis memprakarsai mencetak sebuah Kitab-Suci sebuah “agama” yang mengakui keberadaan Tuhan dan Sang Juruselamat. Namun, yang mustahil itulah yang kini sedang terjadi dan beritanya masih hangat disiarkan di berbagai berita di jaringan TV Nasional CCTV dan beberapa TV asing beberapa hari ini.

Terhadap penyelenggaraan Olimpiade di Beijing, pemerintah setempat mendapat banyak pergunjingan dari berbagai pihak, terutama pihak barat, hal-hal yang berkaitan dengan isu HAM termasuk kebebasan beragama, baik dari kaum sekuler maupun kaum religius Kristiani. Ada beberapa website Kristen yang menulis adanya larangan para atlit dan pengunjung asing membawa Alkitab masuk ke China, dan rumor bahwa Alkitab di China hanya dapat diperoleh dengan menyelundup/ rahasia, dan juga rumor bahwa sampai sekarang hanya ada gereja bawah tanah disana. Untuk menanggapi rumor tersebut, Pemerintah China tidak memakai cara-cara kekerasan atau dengan cara diplomasi verbal menolak rumor tersebut, sebaliknya mereka memakai cara diplomasi yang elegan untuk menggapinya yaitu dengan tindakan membagikan-bagikan Alkitab edisi Olimpiade Beijing secara gratis yang disebar di gereja-gereja di Beijing untuk para pengunjung dan di kawasan ‘Olympic Village’ bagi para Atlit yang memerlukannya. Plus mereka menjamin tidak ada larangan gereja harus tutup, semua orang boleh ke gereja kapan saja. Mereka berusaha menjadi tuan-rumah yang baik, sebagai penyelenggara yang baik, mereka bahkan mengharuskan semua tempat dugem/ nite-club/ karaoke tutup total selama Olimpiade, ini lebih-lebih dari masa Ramadhan disini. Suatu langkah yang ‘pintar’ untuk membungkam rumor.

Read the rest of this entry »

Jun 21

How can we win when fools can be kings? (Matthew Bellamy, Black Holes and Revelations, 2006)

Kita patut bersedih, Indonesia pasca reformasi bukannya maju tetapi malah terpuruk, gema reformasi yang kaya retorika miskin substansi, yang tidak mampu me-reform bangsa dan negara. 10 tahun sudah semenjak Orde Baru tumbang, Indonesia makin jauh tertinggal ke belakang bahkan diantara negara-negara di Asia Tenggara sendiri. Thailand, Malaysia, Korea adalah negara-negara yang pernah terpuruk akibat krisis keuangan, mereka sudah bangkit, terhadap pembangunan begitu marak dan kemajuan-kemajuan disana, kita perlu sangat iri dan memandang sedih keadaan Indonesia kita sekarang ini.

Yang terjadi di Indonesia, para penguasa yang tidak mencintai bangsa dan negaranya, yang selalu bertikai untuk kepentingan kelompoknya dan membela perutnya sendiri-sendiri. DPR yang sebagian “tidur”, pejabat yang korup…. tidak ada nasionalisme, tidak mencintai bangsa dan negara. Pemimpin yang tidak tegas, takut dan sungkan pada kelompok tertentu, para pemimpin negara yang tidak dapat menyelesaikan kasus lumpur panas dan menindak yang membuat gara-gara bencana itu. Pengungsi pasca tsunami Atjeh yang masih ada tinggal di tenda-tenda hingga kini, angka kemiskinan yang bertambah, malnutrisi, dan lain-lain. Para mantan pejabat negara yang tidak ada puasnya menjadi pejabat, mantan menteri-pun masih ingin menjadi gubernur dan walikota. Para incumbent yang sudah jelas tidak mampu membangun suatu daerah masih ingin juga terpilih dalam pilkada. Menteri-menteri bidang kesejahteraan yang gagal mensejahterakan rakyat, malah sebaliknya menjadikan rakyat sengsara. Kita dipimpin oleh orang-orang yang tidak mempunyai itikad membangun negara. Mereka hanya berjuang untuk diri sendiri dan memperkaya diri dan kelompoknya.

Read the rest of this entry »

Jun 13

Truth is the first casualty of war.

Image
Written and Directed by: Brian De Palma

Brian De Palma ingin negaranya menghentikan perang melalui film terbaru yang dikemasnya dengan judul Redacted. Meski sebuah “cerita fiksi” namun film ini diangkat dari true events yang diinginkannya menjadi suatu pengungkapan betapa collateral damage penyerangan/invansi Amerika Serikat ke Iraq tidak hanya menzolimi rakyat Iraq namun juga telah merusak mental para prajurit yang dikirim untuk misi tersebut. Redacted, juga terinspirasi dari Kasus Abeer Qassim al-Janabi, yaitu kejadian nyata atas pemerkosaan dan pembunuhan terhadap gadis Iraq yang berumur 14 tahun disertai dengan pembantaian terhadap keluarganya yang dilakukan oleh tentara Amerika. De Palma memfiksikan kisah ini dengan sorotan ala kamera handicam seorang amatir.

Read the rest of this entry »

May 22

Image Menyimak musibah gempa pada hari Senin tanggal 12 Mei 2008 yang berkekuatan “8.3 Skala Richter” di kawasan pegunungan yang jaraknya sekitar 100 km dari kota berpenduduk 10juta jiwa, di Chengdu, ibukota provinsi Sichuan - China. Setiap hari non-stop beritanya di TV lokal CCTV menceritakan 1001 kisah-kisah yang menyentuh, dan didalamnya pula kita dapat melihat rasa solidaritas kemanusiaan dan penanganan musibah yang terkoordinasi dengan sangat baik. Dari banyaknya kisah yang diliput, ada satu kisah yang ingin saya bagikan yang menunjukkan betapa satu nyawa itu sungguh berharga. Tentara-tentara muda dan relawan tak kenal lelah menyisir puing-puing reruntuhan bangunan, mengambil mayat-mayat dan mencari-cari orang-orang yang masih bisa tertolong nyawanya.

Suatu ketika seorang regu penyelamat seperti biasa memanggil-manggil kalau-kalau ada korban yang masih hidup tertimbun di reruntuhan bangunan. Dan suatu ketika mereka menemukan ada seorang gadis belasan tahun yang telah tertimbun beberapa hari dan masih dalam keadaan bernyawa, dengan susah payah mereka mengeluarkan gadis ini dari timbunan itu, dan ajaib setelah beberapa hari tertimbun, gadis ini masih dalam keadaan yang lumayan sehat. Ketika menyambut gadis ini keluar dari reruntuhan itu, salah seorang regu peyelamat menyanyikan lagu “Happy birthday to you….” kemudian diikuti teman-temannya yang lain, mereka menyanyikan lagu itu dengan tepuk-tangan. Saya yang sedang menonton TV saat itu agak heran mengapa mereka menyanyikan lagu ini? Dan seketika itu juga saya mengerti sekaligus trenyuh karena dalam nyanyian itu ada suatu dasar filosofis yang dalam yang keluar dari mulut sekumpulan orang-orang muda yang menjadi regu penyelamat. Bahwa mereka sedang merayakan nyawa gadis yang tertolong itu sebagai perayaan bahwa gadis itu telah “born again”, hari itu “ia dilahirkan lagi”. Pantaslah mereka menyanyikan lagu “Happy birthday to you….”. Gadis itu tersenyum dan menangis, diantara relawan juga ikut menangis haru menyambut “hari lahir” yaitu hari keselamatannya. Mereka bertepuk tangan merayakan satu nyawa yang tertolong.

Read the rest of this entry »

May 3

Image

Dulu, seorang budak dan keturunannya tak pernah menyanyi, budak tak pernah tersenyum. Sampai pada tahun 1950, ada harapan baru, ada satu juta orang budak mulai dibebaskan, dan mereka dapat bernyanyi bersama-sama. Itulah masa lalu yang dialami Basang (??, 1937 - ) seorang penulis perempuan asli Tibet yang selalu aktif mengkounter aksi-aksi yang dilakukan Dalai Lama dan kroni-kroninya.

Di media-media, kita hanya melihat kecaman-kecaman media barat yang memanfaatkan momen perjalanan keliling obor Olimpiade Beijing. Bangsa barat yang notabene mantan para penjajah ini kini berbicara nyaring atas nama HAM. Tibet adalah mantan daerah koloni Inggris, kitapun melihat betapa rakyat Inggris begitu emosional menghadang perjalanan obor di London sepanjang 53 Km, dikerumuni para demonstan dengan bebagai macam caci-maki. Seolah lupa mereka sendiri dan “teman-temannya” melakukan apa (?) misalnya di Iraq, dan di negara-negara lain sampai sekarang dengan dalih “perdamaian” dan bertindak sebagai “polisi dunia”.

Ada kisah menarik yang sering “diabaikan” oleh media-media barat, suatu kenyataan yang pernah terjadi berabad-abad di Tibet, yaitu perbudakan. Bagaimana kaum elite, kaum tuan tanah, para Lama mengambil keuntungan-keuntungan dari manusia dengan kasta terendah ini, yang terjadi dalam sistem kebudayaan, kehidupan spiritual dan sejarah panjang perbudakan yang pernah terjadi di Tibet. Dibawah ini saya kutip interview wartawan TV Phoenix-Hongkong dengan Basang (??), yang ditayangkan 30 April 2008. Basang terlahir dari keluarga budak di daerah Gonggar – Shannan. Ketika lahir ia dinamai “Galsang” yang artinya “beruntung”, kedua orang tuanya menjadi budak dari keluarga kaya di Lhasa.

Read the rest of this entry »

« Previous Entries