Aug 26

Masih ingat skandal yang pernah terjadi di taman Eden ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa gara-gara makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat? Mari kita bandingkan firman yang diucapkan langsung oleh Tuhan (Kejadian 2:16-17) dengan firman Tuhan yang diucapkan Hawa untuk melawan godaan iblis (Kejadian 3:2-3).

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”
(Kejadian 2:16-17)

Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”
(Kejadian 3:2-3)

Pada dua ayat di atas kita lihat terdapat beberapa perbedaan, ternyata Hawa tidak mengutip murni Firman Tuhan tetapi juga melebihkan atau menambahkan hal-hal yang tidak diucapkan Tuhan. Tuhan hanya berkata jangan makan buahnya tetapi Hawa berkata jangan makan ataupun raba. Tuhan hanya berkata pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat tetapi Hawa berkata buah pohon yang ada di tengah-tengah taman. Tuhan dengan tegas berkata bahwa mereka pasti mati pada hari mereka memakannya tetapi Hawa berkata mereka nanti mati bila makan ataupun raba buah itu.

Read the rest of this entry »

Aug 4

Siapakah yang menguasai hatiku? Belakangan ini selalu saja pertanyaan ini muncul. Binun juga jawabnya karena aku pun tak tau mau menyebut siapa penguasanya. Secara logika, harusnya aku berkata kalau Kristus-lah yang menjadi penguasa hatiku, namun aku harus jujur padaNya.

Saat aku merasa iri hati, maka keinginan dagingku-lah yang menjadi penguasa hatiku. Saat aku merasa rendah diri, maka intimidasi-lah yang menjadi penguasa hatiku. Saat aku merasa sakit hati dan tidak mau mengampuni, maka aku telah menyangkali karya salib Kristus. Saat aku lebih memilih untuk membeli apapun yang aku suka padahal belum tentu aku perlukan, maka aku telah menjadikan keinginan mata sebagai penguasa hati ini. Saat aku meremehkan orang lain, maka hati ini telah dikuasai oleh keangkuhan hidup. Saat aku lebih memikirkan pasanganku daripada Tuhan, maka aku telah mempunyai berhala dalam hidupku. Saat aku kembali jatuh dalam dosa, maka aku mengingkari darah penebusan yang sudah Kristus berikan padaku secara gratis.

Apakah yang paling kuanggap berharga dalam hidup ini? Logika ini tentunya memilih TUHAN sebagai sosok yang paling berharga dalam hidup ini, namun dalam praktek sehari-hari aku seringkali memilih yang lain.

Read the rest of this entry »

Jul 6

Adalah tuntutan ego manusia yang memberi rasa bahagia bila masing-masing individu tersebut diperlakukan dengan prioritas tingkat tinggi. Kekasih menuntut agar diperhatikan lebih oleh pasangannya. Sesama rekan kerja saling bersaing untuk mendapatkan fasilitas dan penilaian prestasi yang terbaik. Ada pula nasabah bank yang sangat puas ketika menikmati fasilitas prioritas dari bank sehingga waktunya tidak terbuang percuma untuk antri panjang. Dari contoh-contoh di atas, saya menarik kesimpulan bahwa prioritas hanya akan diberikan kepada mereka yang berhak mendapatkannya, entah karena sudah membayar dengan suatu harga tertentu atau karena memang sudah menjadi hak yang diperoleh dari status orang tersebut.

Perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. Kalimat tersebut mungkin sudah cukup sering kita dengar namun apakah kita sudah melakukannya dalam keseharian kita? Dan bagaimana dengan motivasi kita saat kita tengah memperlakukan orang lain? Apakah yang menjadi harapan atau pamrih ketika kita memberikan prioritas kepada orang-orang tertentu? Adakah kasih yang mendasari segala tindakan kita?

Pagi ini saya tengah mengalami kecewa dengan seseorang. Permasalahan yang kecil dan sederhana namun saya merasa terkejut atas respon orang tersebut dan jengkel pilihan-pilihannya yang rasanya tidak seimbang dengan prioritas yang saya sudah berikan selama ini. Sejenak saya terbenam dalam gejolak ego yang mengeruhkan ketenangan pikiran; sempat berasumsi tentang seberapa penting diri ini baginya, sempat merengut kesal karena gagalnya beberapa alternatif rencana yang sudah susah payah dipikirkan, bersyukurlah karena saya juga sempat mengingat kenyataan bahwa saya pun sering berlaku tidak adil dan tidak memprioritaskan orang-orang yang membutuhkan prioritas saya. Bahkan yang terlebih parah adalah saya pun sering tidak memprioritaskan sosok pribadi yang jelas-jelas tulus memprioritaskan saya senantiasa.

Read the rest of this entry »

May 27

Masih bisa ingat kah kita waktu pertama kali kita lahir baru dan mengasihi Kristus dengan kasih mula-mula kita? Apa saja yang kita lakukan saat itu sebagai wujud ekspresi cinta kita pada Kristus? Yuk kita coba bagi-bagi kisah ini dengan satu atau dua orang yang ada di sekitar kita saat ini.

Kalau saya, tidak banyak yang saya ingat tentang kisah cinta mula-mula saya dengan Kristus. Saya hanya menjadi lebih rajin untuk berdoa, membaca kitab suci, terbenam dalam pengajaran rasul-rasul dan memperbanyak waktu berkumpul dalam komunitas orang percaya. Rasanya tidak ingin melewatkan sedetik pun tanpa memikirkan atau membahas kasih Kristus yang begitu dahsyat dalam hidup ini. Setiap waktu yang saya lalui terisi dengan senandung ucapan syukur. Hal-hal sederhana mampu membuat saya tersungkur di hadapan Kristus untuk mengucap syukur. Semuanya benar-benar terlihat menakjubkan bagi saya yang saat itu baru saja mengalami kasih mula-mula. Namun sebagai manusia, ada kalanya saya mengalami kejenuhan dan saat-saat seperti itulah saya harus benar-benar waspada karena kasih tersebut sangat rentan untuk luntur atau berkurang kadar antusiasnya.

Mari kita coba baca di kitab Wahyu 2:2-7. Ayat 4 dan 5 sangat menempelak hati saya ketika saya mendalami maknanya.

Read the rest of this entry »

Mar 30

Pernahkah kita mengalami ketidakadilan? Mungkin juga diskriminasi yang ditimpakan atas perbedaan atau kekurangan yang kita miliki? Pernahkah kita mengalami masa kesusahan padahal hidup kita sudah sesuai dengan standar yang diterapkan oleh Firman Tuhan? Pernahkah kita melihat adanya orang yang mengalami kelimpahan berkat padahal hidupnya justru jauh dari berkenan pada Tuhan?

Apakah respon kita saat hal-hal itu terjadi dalam hidup kita? Apakah yang pertama kali melintas dalam pikiran dan hati kita saat kemujuran orang fasik muncul di sekitar kita? Apakah ada rasa marah atau iri hati saat orang lain yang mendapat apresiasi dan prioritas sedangkan kita lah yang lebih berhak untuk mendapatkannya? Bagaimana respon hati kita saat ada intimidasi yang menyerang ego kita?

Read the rest of this entry »

« Previous Entries