Sep 6

”Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana”

Amsal 19 : 21

Kita sering membaca nats di atas, tetapi seringkali kita melupakannya. Kita membuat begitu banyak rancanga-rancangan dalam kehidupan kita, dan kita terlalu sibuk untuk ”memaksakan” rencana-rencana kita untuk menjadi rancangannya Tuhan, sehingga pada saat rencana-rencana tersebuat tidak terjadi, kita sering menjadi kecewa bahkan marah kepada Tuhan. Begitu banyak Orang Kristen yang merasa bahwa Tuhan berhutang kepada mereka dengan pelayanan mereka, dengan kerajinan mereka untuk membaca Firman Tuhan, Berdoa dan berpuasa, sehingga mereka merasa bahwa apapun yang mereka rencanakan haruslah menjadi rencana Tuhan juga.

Dalam Alkitab kita mengenal 2 tokoh yang sangat fenomenal dimana tokoh yang satu memilih untuk keluar dari rencana Tuhan sedang yang lainnya memilih untuk tetap pada rencana Tuhan walaupun untuk menantikan rencanan Tuhan, ia harus hidup dalam begitu banyak persoalan dan permasalahan. Kedua tokoh tersebut adalah Saul dan Daud. Kita semua tahu bahwa mereka berdua adalah orang-orang yang diurapi oleh Tuhan untuk menjadi raja untuk menggenapi rencana Tuhan bagi bangsa Israel untuk memimpin bangsa Israel menjadi bangsa yang diberkati oleh Tuhan.

Saul terpilih oleh Tuhan untuk menjadi raja Israel untuk menggenapi rencana Tuhan memimpin bangsa Israel menjadi bangsa pilihan Tuhan. Tetapi di tengah perjalanan, Saul memilih untuk menuruti hawa nafsu dan keserahakannya dan keluar dari rencana Tuhan. Ia memilih jalannya sendiri, bahkan ia masih mencoba menipu Tuhan pada saat ditegur. Terkadang kita seperti Saul dalam kehidupan kita, kita lebih memilih untuk meninggalkan rencanan Tuhan dan berjalan dengan rencana kita sendiri, menuruti kedagingan kita, menuruti hawa nafsu kita. Terkadang rencana kita malah membuat kita melakukan hal-hal yang akhirnya malah mencelakai diri kita sendiri, sama seperti Saul yang mana karena perbuatannya membuat Tuhan meninggalkannya.

Read the rest of this entry »

Aug 19

Puji syukur sampai hari ini saya masih bisa setia dengan janji saya untuk membaca Alkitab setiap hari, agar dalam setahun ini saya bisa menyelesaikannya dalam satu tahun. Saya menemukan suatu kisah dalam 2 Tawarikh 14 - 16 sebagai suatu kisah yang menarik dan umum terjadi dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Dari nats-nats tersebut kita belajar sebagian dari kehidupan seorang raja Asa. Dalam 2 Taw 14 dan 15 kita melihat bagaimana Tuhan menjaga Raja Asa dengan memberikannya keamanan selama masa pemerintahan raja Asa, karena apa yang diperbuat oleh Raja Asa selama Pemerintahannya :

  1. Dia menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan memerintahkan bangsa Israel untuk setia mencari Tuhan.
  2. Dia pasrah kepada Tuhan pada saat kesulitan datang menghadangnya.
  3. Dia tulus ikhlas se-umur hidupnya.

Tetapi apa yang terjadi kemudian ? Pada 2 Taw 16 digambarkan bagaimana pada saat dia mengalami kesulitan lagi, dia tidak kembali kepada Tuhan, tetapi dia lebih memilih untuk bersandar kepada manusia. Bahkan lebih parah lagi, bahkan pada saat seorang hamba Tuhan mencoba memperingatkannya, dia malah sakit hati dan memasukkan hamba Tuhan itu ke dalam penjara.

Read the rest of this entry »

Jun 27

Rabu kemarin, seperti biasa ada komsel di daerah kompleks kami. Saya tertarik dengan apa yang dibawakan saat itu. Satu pertanyaan yang sempat membuatku berpikir : Who Am I ? (Siapakah saya?). Pertanyaan tersebut sempat membuat saya bingung bagaimana menjawabnya.

Who am I in God’s Eyes ? (Siapakah saya di hadapan Tuhan? ). Jika pertanyaan tersebut dilemparkan kepada kalian, apakah yang akan menjadi jawaban kalian ? Atau apakah kalian akan seperti saya, tertegun sejenak dan merasa bahwa sebenarnya terkadang kita bahkan tidak mengetahui diri kita sendiri. Ada banyak orang yang akan langsung bisa menjawab saya adalah orang Kristen, saya adalah orang yang diberkati Tuhan, saya adalah pelayan Tuhan yang aktif dan lain sebagainya. Tetapi ada banyak pula orang yang menjawabnya dengan jawaban negatif seperti : saya adalah orang yang dikutuk Tuhan, saya adalah orang yang dijauhi Tuhan, saya adalah orang yang tidak layak dihadapan Tuhan.

Jujur saya merasa bahwa jika saya menjawab bahwa saya adalah orang yang diberkati Tuhan, orang yang di sayang Tuhan, saya merasa bahwa orang akan menilai saya sombong, bahkan saya merasa bahwa saya terlalu sombong. Sedangkan jika saya menjawab bahwa saya adalah orang yang dijauhi Tuhan atau orang yang tidak layak dihadapan Tuhan, saya merasa tidak seperti itu, karena begitu banyak berkat Tuhan yang saya rasakan, begitu banyak jamahan Tuhan yang diberikan kepada, dan lebih daripada itu, saya bisa merasakan bahwa Tuhan dekat dengan saya.

Read the rest of this entry »

May 7

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan pertama berjudul Teh Sariwangi

Masih berlanjut cerita tentang Teh Sariwanginya. Ternyata jika kita mau membuka pikiran kita, ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita tarik dari sebuah iklan yang sederhana, tetapi menyentuh hati bahkan untuk beberapa orang, bisa menjadi ’sentilan’.

Hidup ini adalah suatu pilihan, itulah yang sering sekali dikatakan oleh seseorang kepada aku. Apapun yang aku pilih, akulah yang harus menanggung akibatnya, baik atau buruk. Aku tidak boleh menyalahkan siapapun untuk pilihan yang telah aku pilih. Di iklan teh sariwangi ini kita melihat bahwa sang istri adalah seorang wanita yang tahu menentukan pilihan dalam hidupnya. Mengapa begitu ?

Jika kita mau jeli untuk menilai hidup kita, dan menempatkan diri kita sebagai sang istri, seringkali kita melakukan kesalahan dalam memilih tindakan apa yang akan kita lakukan. Dalam iklan teh sariwangi ini, sang istri memilih untuk berkomunikasi. Apakah hanya itu pilihan yang dapat diambil oleh sang istri ?? Tentunya tidak. Sang istri dapat saja memilih untuk diam-diam saja, atau bahkan memarahi sang suami karena tidak menemui di restauran favoritnya.

Read the rest of this entry »

Mar 29

Begitu banyak iklan yang ditayangkan di media televisi kita, kebanyakan dari mereka tidak mendidik. Tetapi belakangan ini aku tertarik melihat iklan Teh Sariwangi, yang begitu sederhana, yet sangat mengesankan. Gambaran sebuah istri yang ideal, yang tahu bagaimana membangun komunikasi dengan sang suami. Aku berpikir, seharusnya seperti inilah keluarga Kristen.

Mengapa aku berpikir demikian ?? Kita sebagai orang Kristen sudah seharusnya mencontoh karakter Yesus dan karakter Yesus yang terbesar adalah KASIH. Bukankah dalam 1 Korintus 13 : 4 dikatakan Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” Lantas apa hubungannya dengan iklan Teh Sariwangi ?

Read the rest of this entry »

« Previous Entries