Jul 21

Suatu kali seorang guru Sekolah Minggu berkata “coba sekarang berikan contoh dari kehidupan sehari-hari arti dari istilah lebih dari pemenang.” Adi, anak jemaat yang cukup berada menjawab, “Begini But Guru, seminggu yang lalu Adi terima rapor, dan Adi senang karena naik kelas. Setelah itu Adi bermain ke rumah teman. Sore harinya ketika Adi pulang, Adi melihat ada sepeda baru di rumah. Kata Ibu, sepeda itu untuk Adi, hadiah dari ayah karena Adi naik kelas. Adi bertambah senang, sudah naik kelas diberi hadiah lagi. Adi menjadi seorang yang lebih dari pemenang.”

Bagaimana kalau menurut kamu, Jono?” Tanya guru Sekolah Minggu kepada Jono yang terkesima mendengar cerita Adi. Bu Guru, jangan ditertawakan ya jawaban saya. Ayah JOno kemarin sakit, sehingga tidak dapat bekerja. Kami pun terpaksa hanya bisa makan di pagi hari. Siang hari makan sedikit singkong dan sore harinya hanya minum air putih. Kalau ayah tidak bekerja maka kami tidak punya uang untuk membeli makanan. Tetapi, ibu mengajak kami bersyukur dan menerima apa yang ada. Kami pun minum air putih dengan senang hati dan sampai sekarang tidak merasa lapar. Jono tidak tahu apakah nanti siang sudah ada makanan atau belum, tetapi Jono tidak kuatir karena Tuhan mengasihi kami. Jadi Jono mereasa seperti seorang yang lebih dari pemenang.”

Renungan hari ini mengajarkan kita apakah artinya menjadi lebih dari sekedar pemenang. Jika selama ini kita diajarkan untuk menjadi pemenang tapi renungan hari membuka mata kita apakah artinya menjadi lebih dari pemenang. Kita sering menyangka bahwa berkat-berkat yang kita terima dari Tuhan sudah menjadikan kita sebagai pemenang dalam hidup ini. Pelayanan yang berhasil yang kita lakukan sudah menjadikan kita sebagai pemenang. Hidup yang berkecukupan, Hadiah yang mahal, teman yang banyak, dan berkat-berkat lainnya membuat kita merasa bahwa kita adalah pemenang, bahkan banyak di antara kita yang merasa bahwa kita sudah menjadi lebih dari pemenang.

Read the rest of this entry »

Apr 4

Syalom! 2 minggu yang lalu saya mendengarkan sebuah siaran radio dan kebetulan mereka membahas mengenai figure seorang ayah. Mereka mendapatkan begitu banyak sms yang menceritakan bagaimana ayah mereka mendidik mereka. Bahkan banyak di antara mereka yang merasakan kasih sayang sang ayah bukan dengan pujian atau tepukan di pundak yang menyatakan kebanggaan sang ayah. Bahkan banyak di antara mereka yang mengatakan bahwa mereka pernah mengecap apa rasanya gesper di badan mereka, bahkan ada yang mengatakan bahwa sang ayah pernah menenggelamkannya ke dalam telaga. Ini yang begitu banyak di alami oleh orang-orang di sekitar kita, bukan hanya kita saja. Banyak dari antara kita yang memiliki hubungan yang sangat buruk dengan sang ayah. Inilah yang sering diberikan oleh ayah-ayah dunia kita, sebuah kepahitan, sebuah disiplin yang keras dan berlebihan, sebuah rasa kebencian dalam hati. Saya rasa kita semua pernah merasakannya, apa saja yang sudah diberikan oleh bapa dunia kita kepada kita.

Sebaliknya, kita melihat apa saja yang sudah diberikan oleh Bapa kita yang di surga :

1. Pengampunan dosa / keselamatan ( Yoh. 3:16) . Kta semua tahu begitu besar kasih Bapa kepada kita, sehingga Ia rela memberikan anakNya untuk mati di kayu Salib. Ini adalah hadiah terbesar yang pernah kita terima, bahkan mungkin tidak akan lagi hadiah sebesar ini yang akan pernah diberikan kepada kita selama kita hidup di bumi. Tidak ada bapa yang di dunia ini yang akan bisa berbuat seperti ini.

2. Kesehatan (Yeremia 33:6) . Ini adalah janji Tuhan kepada kita. Jika kita masih bisa duduk di tempat ini saat ini, ini semua adalah karena kemurahan Tuhan, ini semua adalah karena kebaikan Tuhan. Begitu banyak berita-berita tentang penyakit yang kita dengar belakangan ini. HIV, Kanker, paru-paru, TBC, dan penyakit mematikan lainnya. Pernahkah kita berpikir bagaimana Tuhan menjaga kita dari semuanya itu ? Begitu banyak orang yang berkelebihan di luar sana, tetapi kebanyakan dari mereka tidak bisa menikmati kelebihan mereka, karena mereka tidak memiliki kesehatan seperti yang kita miliki.

Read the rest of this entry »

Dec 25

Just finish the Christmas Celeberation tanggal 21 Desember kemarin.  Sederhana but sangat berkesan di hati. Terutama memang hal ini sudah di rencanakan dengan matang sejak 2 bulan lalu.  Memang melelahkan tetapi setelah melihat hasilnya, seluruh kelelahan hilang dan berganti menjadi rasa bangga.

Aku terkesan sekali dengan suatu drama sederhana dimana drama tersebut menceritakan seorang penjual salib. Setelah lelah berkeliling menjual salib tanpa hasil, akhirnya sang penjual memutuskan untuk memberikan salibnya dengan gratis.  Dia menggelar dagangannya di depan sebuah rumah besar. Keluar sang nyonya pemilik rumah, dan memarahinya karena dia menjual salibnya dan bahkan menolak salib yang diberikan dengan gratis.

Sang penjual memutuskan pindah ke sebuah lapangan dan mulai lagi menggelar salib-salibnya.  Datanglah seorang anak muda.  Sang anak muda ini tertarik dengan salib-salib yang di gelar.  Dia bertanya kepada sang penjual apakah ada salib yang menurut sang penjual cocok dengannya.  Sang penjual pun mengatakan karena dia masih muda, maka ditawarkanlah salib yang lumayan besar, terbuat dari kayu yang belum di poles.  Sang pemuda menolak dengan tegas dan mengatakan bahwa salib tersebut kurang trendi dan tidak menarik.  Akhirnya dia mengambil salib dengan ukuran sedang yang ingin digunakannya untuk menarik perhatian.  Sang penjual mengatakan anak muda jaman sekarang hanya menginginkan sesuatu yang simple, yang mudah, dan tidak mau menerima tanggung jawab yang lebih besar.

Read the rest of this entry »

Sep 6

”Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana”

Amsal 19 : 21

Kita sering membaca nats di atas, tetapi seringkali kita melupakannya. Kita membuat begitu banyak rancanga-rancangan dalam kehidupan kita, dan kita terlalu sibuk untuk ”memaksakan” rencana-rencana kita untuk menjadi rancangannya Tuhan, sehingga pada saat rencana-rencana tersebuat tidak terjadi, kita sering menjadi kecewa bahkan marah kepada Tuhan. Begitu banyak Orang Kristen yang merasa bahwa Tuhan berhutang kepada mereka dengan pelayanan mereka, dengan kerajinan mereka untuk membaca Firman Tuhan, Berdoa dan berpuasa, sehingga mereka merasa bahwa apapun yang mereka rencanakan haruslah menjadi rencana Tuhan juga.

Dalam Alkitab kita mengenal 2 tokoh yang sangat fenomenal dimana tokoh yang satu memilih untuk keluar dari rencana Tuhan sedang yang lainnya memilih untuk tetap pada rencana Tuhan walaupun untuk menantikan rencanan Tuhan, ia harus hidup dalam begitu banyak persoalan dan permasalahan. Kedua tokoh tersebut adalah Saul dan Daud. Kita semua tahu bahwa mereka berdua adalah orang-orang yang diurapi oleh Tuhan untuk menjadi raja untuk menggenapi rencana Tuhan bagi bangsa Israel untuk memimpin bangsa Israel menjadi bangsa yang diberkati oleh Tuhan.

Saul terpilih oleh Tuhan untuk menjadi raja Israel untuk menggenapi rencana Tuhan memimpin bangsa Israel menjadi bangsa pilihan Tuhan. Tetapi di tengah perjalanan, Saul memilih untuk menuruti hawa nafsu dan keserahakannya dan keluar dari rencana Tuhan. Ia memilih jalannya sendiri, bahkan ia masih mencoba menipu Tuhan pada saat ditegur. Terkadang kita seperti Saul dalam kehidupan kita, kita lebih memilih untuk meninggalkan rencanan Tuhan dan berjalan dengan rencana kita sendiri, menuruti kedagingan kita, menuruti hawa nafsu kita. Terkadang rencana kita malah membuat kita melakukan hal-hal yang akhirnya malah mencelakai diri kita sendiri, sama seperti Saul yang mana karena perbuatannya membuat Tuhan meninggalkannya.

Read the rest of this entry »

Aug 19

Puji syukur sampai hari ini saya masih bisa setia dengan janji saya untuk membaca Alkitab setiap hari, agar dalam setahun ini saya bisa menyelesaikannya dalam satu tahun. Saya menemukan suatu kisah dalam 2 Tawarikh 14 - 16 sebagai suatu kisah yang menarik dan umum terjadi dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Dari nats-nats tersebut kita belajar sebagian dari kehidupan seorang raja Asa. Dalam 2 Taw 14 dan 15 kita melihat bagaimana Tuhan menjaga Raja Asa dengan memberikannya keamanan selama masa pemerintahan raja Asa, karena apa yang diperbuat oleh Raja Asa selama Pemerintahannya :

  1. Dia menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan memerintahkan bangsa Israel untuk setia mencari Tuhan.
  2. Dia pasrah kepada Tuhan pada saat kesulitan datang menghadangnya.
  3. Dia tulus ikhlas se-umur hidupnya.

Tetapi apa yang terjadi kemudian ? Pada 2 Taw 16 digambarkan bagaimana pada saat dia mengalami kesulitan lagi, dia tidak kembali kepada Tuhan, tetapi dia lebih memilih untuk bersandar kepada manusia. Bahkan lebih parah lagi, bahkan pada saat seorang hamba Tuhan mencoba memperingatkannya, dia malah sakit hati dan memasukkan hamba Tuhan itu ke dalam penjara.

Read the rest of this entry »

« Previous Entries