Suatu kali seorang guru Sekolah Minggu berkata “coba sekarang berikan contoh dari kehidupan sehari-hari arti dari istilah lebih dari pemenang.” Adi, anak jemaat yang cukup berada menjawab, “Begini But Guru, seminggu yang lalu Adi terima rapor, dan Adi senang karena naik kelas. Setelah itu Adi bermain ke rumah teman. Sore harinya ketika Adi pulang, Adi melihat ada sepeda baru di rumah. Kata Ibu, sepeda itu untuk Adi, hadiah dari ayah karena Adi naik kelas. Adi bertambah senang, sudah naik kelas diberi hadiah lagi. Adi menjadi seorang yang lebih dari pemenang.”
“Bagaimana kalau menurut kamu, Jono?” Tanya guru Sekolah Minggu kepada Jono yang terkesima mendengar cerita Adi. “Bu Guru, jangan ditertawakan ya jawaban saya. Ayah JOno kemarin sakit, sehingga tidak dapat bekerja. Kami pun terpaksa hanya bisa makan di pagi hari. Siang hari makan sedikit singkong dan sore harinya hanya minum air putih. Kalau ayah tidak bekerja maka kami tidak punya uang untuk membeli makanan. Tetapi, ibu mengajak kami bersyukur dan menerima apa yang ada. Kami pun minum air putih dengan senang hati dan sampai sekarang tidak merasa lapar. Jono tidak tahu apakah nanti siang sudah ada makanan atau belum, tetapi Jono tidak kuatir karena Tuhan mengasihi kami. Jadi Jono mereasa seperti seorang yang lebih dari pemenang.”
Renungan hari ini mengajarkan kita apakah artinya menjadi lebih dari sekedar pemenang. Jika selama ini kita diajarkan untuk menjadi pemenang tapi renungan hari membuka mata kita apakah artinya menjadi lebih dari pemenang. Kita sering menyangka bahwa berkat-berkat yang kita terima dari Tuhan sudah menjadikan kita sebagai pemenang dalam hidup ini. Pelayanan yang berhasil yang kita lakukan sudah menjadikan kita sebagai pemenang. Hidup yang berkecukupan, Hadiah yang mahal, teman yang banyak, dan berkat-berkat lainnya membuat kita merasa bahwa kita adalah pemenang, bahkan banyak di antara kita yang merasa bahwa kita sudah menjadi lebih dari pemenang.






