Suatu malam, Yesus dan murid-murid sedang berada di Bukit Zaitun. Tidak ada yang aneh dalam pertemuan itu karena seperti biasa mereka akan berbincang-bincang dengan Sang Guru yang mereka ikuti selama ini. Tiba-tiba saja Sang Guru mulai berkata yang seram-seram, “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.” Mereka pun terdiam dan mulai bertanya-tanya apa yang Sang Guru maksud dengan gembala yang terbunuh dan mereka yang akan tercerai berai.
Petrus mulai menangkap arah pembicaraan dan mulai membuat pernyataan keras, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.”
Sebuah pernyataan yang mungkin sudah dapat ditebak dari seseorang yang berbicara dengan semangat berapi-api seperti Petrus. Semua terdiam menunggu bagaimana reaksi dari Sang Guru. Mereka pun teringat beberapa bulan silam dimana Petrus membuat semua orang kaget akan peryataan dia yang berani. Pada waktu itu Yesus bertanya kepada semua muridnya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Pertanyaan yang membuat semua murid berpikir keras setelah semua spekulasi yang beredar bahwa Sang Guru adalah jelmaan dari Elia, Yeremia, atau nabi lain terjadi ketika Sang Guru melanjutkan pertanyaanya dengan sebuah pertanyaan yang sangat mengganggu, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?“







