Filipi 2:14: Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan
Menjadi pecinta Tuhan bukanlah hal yang mudah. Beberapa orang malah hidup lebih menderita daripada sebelumnya. Mungkin hidupnya yang lama, sebelum menerima Tuhan, mereka baik-baik saja. Semua serba indah, tidak ada masalah. Namun setelah dia menerima Tuhan dalam hatinya, dia mulai dihadapkan dengan suatu situasi yang membuat dia kecewa, atau malah merasa tidak berdaya.
Jadi pengikut Kristus bukan berarti semua akan baik baik saja dan selalu bahagia. Bahkan jika kita hidup sehari-hari dengan saudara dan saudari seiman pun, kita juga dapat merasa tersandung, atau malah, menyandung. Disadari atau pun tidak, kadang tindakan atau kata-kata kita menyinggung orang lain. Mungkin kita tidak bermaksud untuk berbuat demikian, namun hal itu terjadi.
Menyimak musibah gempa pada hari Senin tanggal 12 Mei 2008 yang berkekuatan “8.3 Skala Richter” di kawasan pegunungan yang jaraknya sekitar 100 km dari kota berpenduduk 10juta jiwa, di Chengdu, ibukota provinsi Sichuan - China. Setiap hari non-stop beritanya di TV lokal CCTV menceritakan 1001 kisah-kisah yang menyentuh, dan didalamnya pula kita dapat melihat rasa solidaritas kemanusiaan dan penanganan musibah yang terkoordinasi dengan sangat baik. Dari banyaknya kisah yang diliput, ada satu kisah yang ingin saya bagikan yang menunjukkan betapa satu nyawa itu sungguh berharga. Tentara-tentara muda dan relawan tak kenal lelah menyisir puing-puing reruntuhan bangunan, mengambil mayat-mayat dan mencari-cari orang-orang yang masih bisa tertolong nyawanya.






