What does it mean that you are able to call God your Father?

Hari itu mungkin hari paling mengejutkan buat perempuan itu. Hari-hari yang biasanya ia lalui dalam kehangatan dan kenikmatan tiba-tiba terenggut ketika orang-orang itu.. datang menangkapnya..menyeretnya di sepanjang jalanan kota…
Tangisan dan teriakannya seperti menguap.. orang-orang itu tetap saja menyeretnya.. penuh tatapan kemarahan. kejijikan dan entah apalagi. perempuan itu seperti noda yang harus segera ditanggalkan. Tapi kemana mereka membawanya?

Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku
Kuyakin hari ini pasti menang
Kobarkan semangatmu, tunjukkan mobilitasmu
Kuyakin hari ini pasti menang
Lagu “Garuda di Dadaku” adalah lagu yang selalu dinyanyikan PSSI (timnas sepak bola Indonesia) setiap akan bertanding. Lagu ini notasinya diambil dari lagu daerah asal Papua, Apusé.
Meski sepak bola merupakan olahraga dan hiburan rakyat Indonesia, namun ada semacam pemikiran pada sebagian orang-orang Indonesia bahwa menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan. Dalam film ini, pemikiran itu pula yang selalu terlontar pernyataan-pernyataan Kakek Usman (Ikranegara) agar Bayu (Emir Mahira), cucunya itu tidak akan menjadi pemain sepak bola seperti ayahnya. Melalui film ini, ada pesan khusus kepada kita semua, bahwa kita perlu mengapresiasi olah-raga sepak bola dan para pemainnya. Melalui sepak bola nasional, kita mengenal salah satu atlit cerdas yang dimiliki Indonesia, Bambang Pamungkas dan masih banyak deretan nama-nama lainnya yang menjadi icon timnas PSSI di masa lalu .

Berapa banyak kalangan intelektual di masa sekarang ketika mereka sedang berbicara masih menghargai dan bangga dalam berbahasa Indonesia?. Hampir selalu ada istilah asing dalam pembicaraan mereka. Mungkin mereka pikir dengan gaya bicara seperti itu akan menambah kredit mereka sebagai seorang intelektual. Di pihak lain, acara Infortainment di televisi swasta seolah-olah dengan bangga menampilkan beberapa artis peranakan hasil kawin-campur ras Barat yang berbahasa Indoglish (tidak sepenuhnya bahasa Indonesia dan juga tidak 100% bahasa Inggris). Padahal hal-hal tersebut adalah suatu dekadensi bahkan kebobrokan berbahasa.
Dewasa ini, nasionalisme berbahasa Indonesia yang dicanangkan para leluhur kita sejak tahun 1928 menjadi semakin kempes. Indoglish semakin marak di kalangan kelas menengah-atas di daerah perkotaan. Golongan ini sering mencemarkan bahasa Indonesia dengan istilah-istilah yang ‘mereka anggap’ sebagai cerminan intelektualitas. Mereka ini adalah pengguna Indoglish yang jelas tidak punya kebanggaan pada bahasa bangsa sendiri.
Maraknya sekolah-sekolah internasional swasta menambah kemungkinan tergerusnya bahasa Indonesia sebagai bahasa yang menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Betapa banyak anak-anak kita yang bersekolah disana menjadi ‘lupa’ akan bahasa Indonesianya. Anak-anak muda di Indonesia juga sepertinya bangga jika ia sudah dapat berbicara dengan gaya “Indoglish” atau bahkan ‘fake-accent‘ yang terdengar ‘kebulé-buléan‘ ditampilkan beberapa artis Indonesia semisal nona belia Cinta Laura dan ’selebritis baru’ Manohara. Kita melihat kabar di televisi dan koran nasional bahwa Manohara rindu kembali ke tanah kelahirannya Indonesia, berjuang sampai berhasil kembali, dan Laskar Merah Putih turut membelanya. Tapi… adakah rasa nasionalisme yang kasat mata dapat kita lihat di kala ia “sudah lupa” berbahasa Indonesia?.






