Pernahkah kita mengalami ketidakadilan? Mungkin juga diskriminasi yang ditimpakan atas perbedaan atau kekurangan yang kita miliki? Pernahkah kita mengalami masa kesusahan padahal hidup kita sudah sesuai dengan standar yang diterapkan oleh Firman Tuhan? Pernahkah kita melihat adanya orang yang mengalami kelimpahan berkat padahal hidupnya justru jauh dari berkenan pada Tuhan?
Apakah respon kita saat hal-hal itu terjadi dalam hidup kita? Apakah yang pertama kali melintas dalam pikiran dan hati kita saat kemujuran orang fasik muncul di sekitar kita? Apakah ada rasa marah atau iri hati saat orang lain yang mendapat apresiasi dan prioritas sedangkan kita lah yang lebih berhak untuk mendapatkannya? Bagaimana respon hati kita saat ada intimidasi yang menyerang ego kita?
Dalam kitab Mazmur 37:1-11 kita diingatkan tentang bagaimana respon yang benar dan tindakan yang patut dilakukan ketika hal-hal itu terjadi dalam hidup kita. Jangan marah dan iri hati sebab semua keberhasilan orang fasik hanyalah sementara, tidaklah sebanding dengan kebahagiaan kekal yang menunggu kita setelah kita tahan uji melalui segala hal-hal itu.
Ada beberapa fokus yang TUHAN perintahkan untuk kita lakukan ketika hal-hal yang sesak itu menghampiri hidup kita :
- Percayalah kepada Tuhan
- Lakukanlah yang baik
- Berlakulah setia
- Bergembiralah karena Tuhan
- Serahkanlah hidup kita kepada Tuhan
- Percayalah kepada Tuhan dan Tuhan akan bertindak
Mempraktekan Mazmur 37:3-5 ini pastilah sangat sulit apalagi ketika kita dalam masa-masa yang tidak nyaman, namun ini adalah perintah Tuhan bagi setiap kita. Perintah untuk “percaya kepada Tuhan” dituliskan sebanyak dua kali, hal ini membuktikan betapa pentingnya kepercayaan kepada Tuhan dan betapa Tuhan rindu agar kita bergantung penuh kepadaNya bagaimanapun keadaan diri kita.
Lalu bagaimana untuk tetap bergembira di saat yang tidak enak? Apakah yang menjadi sumber sukacita saat kita dirundung kemalangan? Ingatlah hukum pertukaran yang sudah dinyatakan ketika Kristus disalibkan ganti dosa kita. Di kayu salib Kristus sudah menukar segala penderitaan kita dengan diriNya sendiri, segala keberadaan diri kita sudah dibeli lunas oleh darahNya yang kudus. Hidup kita yang sekarang adalah hidup bagi Kristus, bukan hidup yang berfokus pada ego. Hidup kita bukanlah milik kita lagi, kita sudah mati bersamaan dengan penyaliban Kristus. Orang mati tentu tidak akan merasakan apa-apa bila disakiti, dilecehkan ataupun diperlakukan dengan tidak adil. Kristus tidak minta supaya kita ramai-ramai bunuh diri, tetapi yang diminta adalah mematikan ego dan segala perbuatan daging kita. Kristus tau hal ini sangat sulit buat kita, karenanya Kristus mati disalibkan bagi kita dan bangkit supaya kita boleh menang atas segala perbuatan daging serta mampu mengalahkan ego. Secara status, kita memang sudah diselamatkan dan menang karena Kristus, namun pada aplikasi sehari-hari kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan tetap tinggal dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah di sini maksudnya bukan berdiam di gereja setiap saat, namun mengijinkan Kristus menjadi pengendali dan penguasa tunggal dalam hidup kita. Allah juga telah menyediakan Roh Kudus yang menjadi penolong kita dalam menjalankan tugas dan panggilan hidup kita sebagai anak-anakNya.
Bapa kita di surga pasti mengerjakan bagianNya untuk menjaga dan memberkati kita dengan kehidupan kekal, namun adakah kita tetap setia melakukan bagian kita untuk mentaati segala FirmanNya dan mematikan ego kita?

















April 2nd, 2008 at 9:20 am
Pada dasarnya manusia lebih suka dan lebih enak dalam kondisi dipimpin daripada memimpin.
Pakai saja fakta ini dalam hidup. Biarlah hidup kita dipimpin Tuhan.
April 16th, 2008 at 10:48 am
kadangkala kekerasan hati kita membuat kita tidak mau bersandar pada Tuhan. Kita memilih untuk memenangkan ego kita daripada mematikan alamiah kita dan memperhidupkan Tuhan.
Tuhan memiliki kedambaan dari dahulu untuk mendapatkan manusia sebagai pijakanNya, yaitu kerajaan Allah di bumi, namun Dia tidak otoriter juga, perlu ada keputusan dari kita, maukah kita mengijinkan Tuhan mengerjakan bagian-Nya dalam diri kita?