Ketaatan Membuatnya Berbeda

Saya tidak menyukai pekerjaan rumah tangga. Saya selalu memimpikan menjadi seorang wanita karir yang tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, mencuci baju, menyapu, dan sebagainya. Saya ingin mencari uang dan membayar seorang asisten rumah tangga untuk melakukannya. Itulah keinginan saya.

Orang tua saya memiliki pandangan yang berbeda. Mereka selalu mengajarkan bahwa seorang wanita pasti akan masuk dapur. Dengan kata lain, seberapa keras usaha kita dan seberapa besar tenaga yang kita keluarkan untuk menghindari pekerjaan rumah tangga, kita akan tetap ke sana dan mengerjakannya. Lebih lebih lagi saat kita memutuskan untuk membangun rumah tangga dengan pasangan kita. Atau dengan kata lain, saat kita sudah menikah.

Tidak, saya tidak akan membahas tentang rumah tangga. Saya juga tidak akan menceritakan tentang bagaimana cara-cara membangun rumah tangga yang baik. Tentu saja, karena saya belum menikah dan belum ada pemikiran yang benar-benar matang ke arah sana. Saya hanya ingin membagikan sedikit kisah saya tentang apa yang dinamakan ketaatan.

Kembali ke rumah tangga. Bagaimanapun, keputusan dan pendapat orang tua saya tersebut membuat saya mau ataupun tidak mau, mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saya dapat memprotes ini dan itu. Saya juga dapat terus melontarkan argumen saya tentang wanita masa kini. Saya dapat menunjukkan bukti-bukti tertulis bahwa wanita dapat hidup tanpa menyentuh pekerjaan rumah tangga. Saya dapat melakukan itu semua dengan konsekuensi hubungan saya dengan orang tua saya menjadi tidak baik. Namun, saya memilih untuk melakukan apa keinginan mereka saja. Anehnya, saya mau melakukannya. Saya menuruti mereka.

Saya memulainya dari mengatur kebutuhan saya sendiri. Saya membutuhkan pakaian untuk dikenakan, saya mencuci dan menyeterika sendiri pakaian saya. Saya membutuhkan piring untuk memudahkan saya makan, saya mencuci piring setiap hari, tentu saja, piring untuk orang serumah. Saya ingin mencegah diri saya terkena penyakit, saya membersihkan rumah. Pekerjaan ini, karena dilakukan terus menerus, maka menjadi suatu kebiasaan buat saya dan saya jadi menyukainya.

Pada awalnya, semua sulit dilakukan. Membangun kebiasaan seperti ini sungguh berat. Apalagi saya dibesarkan dengan sedikit manja di mana pada masa kecil saya, saya tidak diperbolehkan menyentuh pekerjaan rumah tangga. Padahal saat – saat itulah saya ingin belajar. Dan sekarang, saat saya memiliki pandangan untuk tidak mengerjakannya, saya harus mengerjakannya. Benar-benar terpaksa. Parahnya, ini harus dilakukan setiap hari. Anehnya, saya mau melakukannya.

Berkali-kali saya sering berbeda pendapat dengan orang tua. Maklumlah, pada saat itu saya sedang berusaha mencari jati diri dan tidak memperdulikan orang lain. Ego dan keinginan bercampur baur dengan kenyataan. Masa-masa remaja merupakan masa yang cukup menyebalkan buat saya. Bukan dalam hal materi ataupun sosial. Saya merasa tidak berkekurangan, saya juga tidak merasa kurang pergaulan. Namun, saya merasa dicurangi.

Saat teman-teman saya pergi sekolah, saya harus belajar mengatur kamar. Saat sore hari teman-teman bermain di lapangan, saya harus belajar mencuci piring. Saat malam hari teman-teman pergi ke mall, saya harus menemani mama dan belajar memasak. Padahal saya selalu lupa resep dan cara-cara memasak. Entahlah, mungkin saya kurang berbakat memasak. Tidak seperti mama yang sangat piawai dalam memasak. Saya tidak menyukainya, namun saya melakukannya.

Latihan saya tiap hari ini membuat saya lama kelamaan menjadi mampu bertindak. Saya menjadi lebih piawai dalam mencuci piring. Entah bagaimana banyaknya piring, sendok, gelas, mangkuk dan wajan, saya selalu berhasil menatanya dengan baik dan mencucinya bersih dengan waktu yang menurut saya cepat. Saya bangga akan kemampuan ini. Saya menjadi pencuci pakaian yang cukup cekatan. Saya bisa menakar berapa banyak sabun yang harus saya campurkan pada volume air tertentu. Kadangkala, saya bereksperimen dengan menggunakan pewangi atau deterjen yang berbeda, dan hasilnya berbeda-beda. Saya tetap tidak bisa memasak, namun saya berlatih untuk bisa memasak. Saya dapat memperkirakan waktu yang saya butuhkan untuk melakukan itu semua dan saya bisa tetap mengisi waktu saya dengan hal lain. Saya mulai beraktivitas. Saya senang dan puas dengan pekerjaan saya. Dulunya saya tidak suka, namun sekarang, saya menyukainya.

Entah mengapa itu menjadi hobi baru saya. Saat saya pergi ke luar kota, dan menginap di suatu tempat- di mana saya tidak perlu melakukan hal mencuci dan bersih-bersih- saya selalu merindukan rumah. Saya memikirkan bagaimana keadaan rumah. Bagaimana burung-burung peliharaan dan hamster-hamster saya mengotori rumah. Saya membayangkan bagaimana kacaunya ruang tamu jika tidak disapu. Saya merindukan saat-saat saya harus berjongkok untuk mencuci baju ataupun mencuci piring. Saya merindukan itu semua. Oh tidak! Ini bukan saya.

Aneh rasanya membayangkan hal seperti ini terjadi dalam hidup saya. Bagaimana mungkin, saya, seorang yang begitu bertekad untuk menjadi wanita karir dan tidak mau mengurus rumah tangga, atau hal – hal yang berkaitan dengan itu, sekarang malah kecanduan melakukannya. Bagaimana mungkin, saya seorang yang tidak mau masuk dapur dan malas memasak, melakukannya untuk orang yang saya sayangi. Bagaimana mungkin saya seorang yang begitu menjunjung tinggi kata-kata “elegan”, kecanduan jongkok di kamar mandi untuk mencuci baju saya. Bagaimana mungkin?

Saat saya menanyakan hal ini pada diri saya, saya terpaku. Saya mengetahui biang kerok perilaku ini. Saya mengetahui penyebab hal ini terjadi. Semua dimulai dari ketaatan dan kemauan saya sendiri. Mungkin saya dahulu sangat anti dengan pekerjaan rumah tangga ini. Namun mengapa saya menurut saja saat orang tua saya mendorong saya melakukannya. Saya bisa saja menolak dan mungkin saya sekarang sedang menghabiskan waktu jalan-jalan dengan banyak teman baru, dari internet misalnya. Saya bisa saja menolak mengerjakannya dan memilih menghabiskan waktu hang out dengan teman-teman saya. Dengan kemauan saya, walaupun mungkin pada awalnya itu kecil, saya bertindak. Dari sebuah kemauan. Dan inilah saya, seorang gadis yang menyukai pekerjaan rumah tangga.

Sekarang, orang tua saya sudah menginjak setengah abad, bahkan lebih. Saya dapat meringankan pekerjaan mereka yang berhubungan dengan rumah tangga. Keluarga saya memiliki phobia dengan yang namanya asisten rumah tangga, atau lebih dikenal dengan PRT. Berbagai kejadian tidak menyenangkan sering terjadi dan sering kami alami, termasuk kebakaran di dapur rumah kami. Mama saya lebih suka kami mengerjakan sendiri pekerjaan ini. Dan saya mampu mengerjakannya. Saya mampu mencuci piring, sehingga mama tidak perlu berjongkok di sana untuk mencuci piring-piring itu. Mama hanya memasak, karena itu hobinya, dan melakukan pekerjaan lain yang tidak memerlukan jongkok berdiri. Saya senang sekali mengetahui bahwa saya dapat mengurangi sedikit beban mereka. Sedikit sekali, namun berguna.

Saya jadi memikirkan bagaimana jika ini terjadi dengan hubungan saya dengan Sang Pencipta. Bagaimana jika dari dahulu, saya didorong terus menerus untuk melakukan apa yang Dia inginkan? Bagaimana jika dalam setiap situasi – walaupun saya sebenarnya ingin memberontak dan protes- saya mengatakan “Iya Tuhan, saya mau melakukannya” dan saya bergerak?

Bagaimana jika saat panggilan itu datang, saya taat? Bagaimana saat saya merasa malas sekali untuk pergi beribadah dan bersekutu dengan saudara saudari Dia mendorong dan membuat saya untuk berangkat dan saya memutuskan untuk melangkah? Kondisi yang sama, tanggapan yang berbeda.

Mungkin semuanya tidak akan sama, namun lebih. Mungkin saya akan lebih banyak dipakai sebagai saluran berkatNya. Mungkin saya akan lebih cepat mengalami pemrosesan. Mungkin saya akan lebih cepat mengalami pembentukan sesuai dengan keinginanNya. Mungkin ketaatan itulah jawabannya.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Furl
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Reddit
  • YahooMyWeb
  • Ma.gnolia
  • NewsVine

4 Responses

  1. Fida Abbott Says:

    You got it!!!

    GBU!

  2. Yola Gani Says:

    Tidak ada yang bisa menentukan langkahmu, untuk menjadi seorang perempuan dengan pangkonan tertentu. Hanya di dirimu kamu bisa berkaca. Hanya dirimu yang tahu seperti apa dirimu bisa bercahaya.
    Bukan keluargamu yang harus berbicara, bukan teman temanmu yang harus berkata. karena sebenarnya kamu mempunyai cahaya itu.
    kuncinya hanya ketika kita mau jujur apa adanya di depan Pencipta, dan didepan siapapun juga. Maka aku rasa kamu adalah seorang perempuan yang unik dan spesial walapun kamu tidak bisa masak.

  3. Icha Says:

    Hi Sis Fida! :D GBU too:D thank you sis :D

    Hi Mizz Yola! thank you very much :D:D semangat terus! hoitt..! :D

  4. Seli Says:

    Wanita karir? Belum datang waktunya untuk itu. Tapi yang pasti, saat sekarang ini, waktu sedang membentuk seorang calon ibu rumah tangga yang mandiri.

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.