Melangkah Setahap Demi Setahap

Beberapa minggu yang lalu saya dan teman-teman melakukan perjalanan ke luar kota.Memang sih jaraknya tidak terlalu jauh sampai bermil-mil, tetapi karena adanya hambatan dalam perjalanan, kami terpaksa bertahan dan menempuhnya dalam waktu 6 jam. Perjalanan ke kota ini biasanya kami tempuh dalam waktu dua jam saja, karena lokasinya hampir bersebelahan dengan kota tempat kami tinggal.

Dalam perjalanan tersebut, beberapa teman merasa tidak enak badan dan mual karena terkena goncangan dalam mobil. Maklum saja, jalan yang kami lalui berliku-liku serta tidak rata. Ditutupnya beberapa jalan utama membuat kami harus melewati jalan alternatif yang cukup kecil dan tidak beraspal. Selain itu, beberapa orang penduduk yang tinggal di sana juga terus menagih uang pada kami karena kami melewati jalan depan tempat tinggal mereka. Mereka merasa kehidupan mereka terganggu dengan keramaian kendaraan yang muncul sejak jalan utama antar kota tersebut ditutup. Kami pun memakluminya.

Namun lama-kelamaan kami pun menjadi tidak sabar juga. Hal ini disebabkan karena setiap 4 meter, ada penduduk lain yang meminta uang dan hal ini terjadi terus menerus hingga kami selesai menyeberang. Bayangkan saja jika sekali memberi “denda”, Rp. 1.000,- hilang dan jika itu dikalikan dengan jumlah orang yang meminta di setiap 4 meter, maka perjalanan yang kami tempuh itu sungguh membuat kami kehabisan uang.

Bukan itu saja, hujan yang terus mengguyur wilayah tersebut seakan melengkapi keindahan perjalanan kami. Jalan yang becek serta sentuhan-sentuhan nodanya pada kendaraan kami kadang membuat kami yang mencuci kendaraan tersebut menjadi sedih dan sia-sia. Belum lagi pemandangan kecelakaan truk yang kami lewati di jalur seberang kanan kami membuat detak jantung kami berhenti sejenak.

Namun apakah kami membatalkan perjalanan kami dan putar balik untuk kembali pulang? Tidak. Kami terus jalan dan maju. Mengapa? Karena kami tahu bahwa di sana kami akan bersenang-senang, menikmati waktu-waktu kami dengan rileks dan gembira. Rasa mual dan tidak enak badan, kami tahan. Perasaan sedih dan sia-sia pun kami tahan. Lamanya waktu untuk mencapai tempat tujuan tidak membuat kami menyerah. Kami saling menghibur dan mengobati di dalam kendaraan itu. Terkadang kami membagi snack yang kami bawa dan mendengarkan lagu bersama-sama. Perasaan yang tidak enak berubah menjadi keceriaan. Rasa sedih berubah menjadi sukacita. Perjalanan pun kembali terasa menyenangkan.

Sesampainya di tujuan, kami baru menyadari bahwa apa yang kami perjuangkan tidak sia-sia. Pengorbanan sakit perut, mual-mual, menahan diri untuk tidak marah dan egois, menahan emosi yang kadang ingin keluar lewat ucapan, kini terbayar sudah. Kami sangat menikmati waktu-waktu di sana. Keindahan alamnya serta kenyamanan yang ada di sana benar-benar membuat kami lupa akan emosi dan ketidak nyamanan yang kami dapatkan di dalam perjalanan. Kami tidak menyesal melewatinya.

******************************

Jika saya melihat perjalanan yang saya lakukan beberapa minggu yang lalu, seakan Tuhan ingin mengajarkan sesuatu pada saya. Saya sering bahagia dan menikmati kehidupan yang saya miliki. Namun, kehidupan saya dengan-Nya bukanlah kehidupan yang terus menerus diberi kenyamanan atau pun kenikmatan jasmaniah. Bahkan tidak menutup kemungkinan, Dia membawa saya ke jalan yang berliku dan tidak beraspal serta menghadapi berbagai orang yang menginginkan sesuatu dari saya. Tangis dan emosi seringkali saya alami. Rasa iri hati dan dengki pada mereka yang bahagia juga kadang hinggap dalam hati saya. Saya bukanlah orang yang murni dan baik. Saya juga pernah marah, kecewa, sakit dan tukang protes. Ternyata saya bukan satu-satunya orang yang demikian. Beberapa teman yang kadang curhat pada saya juga mengalami hal yang sama. Kami seakan di pukul di sana dan di potong di sini. Dibawa ke kiri dan dilempar ke kanan. Kehidupan tidak semudah seperti dongeng Putri Salju dan Cinderella.

Tapi kemudian saya melihat, Tuhan menjanjikan sesuatu yang lebih indah di sana. Saat Abraham dipanggil keluar dari tanah tempat tinggalnya pun dia pasti juga mengalami hal yang tidak menyenangkan. Rasa kehilangan, lelah dan tidak bahagia juga dia alami. Namun Tuhan telah menjanjikan bagi dia sebuah tanah untuk dimilikinya serta keturunannya. Dia pun percaya dan melakukan perintah Tuhan. Dia tahu Tuhan pasti memberinya dan dia menempuh jalan itu.

Lalu saya bertanya pada diri saya sendiri, “Kamu selalu meyakinkan dirimu bahwa Tuhan pasti memberi yang terbaik untukmu, bahwa apa yang kamu lakukan untuk Tuhan tidak akan sia-sia, namun mengapa kamu masih menggerutu? Mengapa kamu masih tidak terima dan marah? Mengapa kamu memancing kemarahan orang lain?”

Saat kita mengetahui bahwa ada hadiah yang indah menanti kita, bukankah sebaiknya kita terus berjuang dan tidak menyerah? Saat kita melewati perjalanan yang mengecewakan dan tidak sesuai dengan harapan kita, bukankah sebaiknya kita terus maju dan menatap tujuan kita? Saat kita mengetahui bahwa Tuhan menjanjikan sesuatu yang indah melebihi apapun yang ada di bumi, bukankah sebaiknya kita tidak menjadikan perbuatan saudara-saudara kita sebagai batu sandungan buat kita? Saat kita tahu bahwa Tuhan yang tersembunyi akan membalas perbuatan kita yang baik secara tersembunyi pula, bukankah sebaiknya kita tidak memamerkan dan memegahkan diri kita? Saat kita tahu bahwa Tuhan ada di mana-mana, bukankah sebaiknya kita berintegritas dan tidak berpura-pura?

Perjalanan ini harus kita tempuh untuk menunaikan ekonomi Tuhan. Sebelum kedatangan Tuhan yang kedua kalinya, kita tidak boleh menyerah. Tuhan ingin kita sama-sama membentuk tubuh-Nya. Saudara-saudari yang ditempatkan di sekitar kita merupakan proses yang Tuhan beri untuk pertumbuhan kita. Masalah-masalah yang ada di depan kita merupakan batu loncatan kita untuk semakin merasakan karunia yang Tuhan berikan. Saling mengingatkan dan saling menasehati merupakan salah satu tindakan yang Tuhan anjurkan, bukan menghakimi dan mengucilkan. Perjalanan yang kita tidak tahu kapan berakhirnya ini perlu kita lewati setahap demi setahap. Nikmati setiap rasa yang ditawarkan dan petiklah buah pelajaran sebagai bahan konsumsi kesehatan rohani kita, karena kita tahu bahwa upah yang menanti kita akan lebih besar daripada apa yang kita duga.

2Tim. 2:22
Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Furl
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Reddit
  • YahooMyWeb
  • Ma.gnolia
  • NewsVine

3 Responses

  1. DeepBlue Says:

    Awesome! God bless you!

  2. Cionia Says:

    …….thks sdh menulis artikel ini….sangat membantu sy utk melihat kedepan diluar dr masalah sy, bersyukur atas teman2 yg tlh Tuhan berikan kpd sy…
    Gbu

  3. Irwan Says:

    Artikel yang sangat baik , gaya cerita yang lugas , ada banyak orang yang perlu diingatkan .
    Terima kasih.
    God Bless You

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.