Menjadi Murid Nomor Satu

Suatu malam, Yesus dan murid-murid sedang berada di Bukit Zaitun. Tidak ada yang aneh dalam pertemuan itu karena seperti biasa mereka akan berbincang-bincang dengan Sang Guru yang mereka ikuti selama ini. Tiba-tiba saja Sang Guru mulai berkata yang seram-seram, “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.” Mereka pun terdiam dan mulai bertanya-tanya apa yang Sang Guru maksud dengan gembala yang terbunuh dan mereka yang akan tercerai berai.

Petrus mulai menangkap arah pembicaraan dan mulai membuat pernyataan keras, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.

Sebuah pernyataan yang mungkin sudah dapat ditebak dari seseorang yang berbicara dengan semangat berapi-api seperti Petrus. Semua terdiam menunggu bagaimana reaksi dari Sang Guru. Mereka pun teringat beberapa bulan silam dimana Petrus membuat semua orang kaget akan peryataan dia yang berani. Pada waktu itu Yesus bertanya kepada semua muridnya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Pertanyaan yang membuat semua murid berpikir keras setelah semua spekulasi yang beredar bahwa Sang Guru adalah jelmaan dari Elia, Yeremia, atau nabi lain terjadi ketika Sang Guru melanjutkan pertanyaanya dengan sebuah pertanyaan yang sangat mengganggu, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?

Tidak ada yang berani menjawab. Semua orang takut berbuat kesalahan dengan berkata bodoh. Tapi ada Petrus yang tidak pernah takut mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. Dengan spontan Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Satu, dua, tiga detik pun berlalu dalam ketegangan dan tiba-tiba Sang Guru pun tertawa sambil memegang bahu dari Petrus serta berkata, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Petrus pada waktu itu. Dia telah dipuji oleh Sang Guru dihadapan semua yang lain. Akhirnya Petrus mulai merasa di atas angin karena misinya menjadi murid nomor satu sudah hampir menjadi kenyataan. Di dalam hati Petrus cuma ada satu hal yang penting, yakni bagaimana dia bisa menjadi tangan kanan Sang Guru yang utama. Selama tiga tahun dia selalu mengawasi bagaimana hubungan Sang Guru dengan murid-murid yang lain dan melihat siapa saja yang berpeluang menjadi saingan dirinya untuk merebut posisi sebagai murid nomor satu.

Apakah Petrus bersungguh-sungguh dengan perkataannya di Bukit Zaitun bahwa dia tidak akan meninggalkan Sang Guru meski yang lain akan melakukannya. Bahwa dia akan tetap setia pada Sang Guru meski yang lain kehilangan kepercayaan mereka pada sang Guru. Kenyataannya ialah bahwa Petrus sungguh-sungguh mengatakannya dari dasar hati dia yang paling dalam. Dia ingin menjadi murid nomor satu dan itu berarti jika yang lain meninggalkan Sang Guru namun dia tetap bertahan maka dia berhasil membuktikan kepada semuanya bahwa dia memang layak menjadi murid nomor satu.

Menjadi murid nomor satu berarti segalanya bagi Petrus karena itu akan berarti ketika Sang Guru tidak lagi hidup di bumi, maka dia yang akan menjadi penerus utama seperti Yosua dengan Musa atau Elisa dengan Elia. Atau mungkin politik adalah alasan utama dia melakukannya karena telah terdengar pengajaran bahwa Sang Mesias akan menjadi raja atas Israel dan mengusir penjajah Roma. Jika itu benar-benar terjadi maka Petrus siap diangkat menjadi Perdana Menteri atau Penasehat Utama kerajaan seperti Ahitofel dengan Daud. Apapun itu, dia siap menjadi yang nomor satu buat Sang Guru.

Ingatan Petrus pun berpaling ke masa lalu kembali. Tak lama sesudah dia dipuji oleh Sang Guru di hadapan yang lain sebagai orang yang mendapat pewahyuan Bapa, terjadilah kejadian lain yang membuat dia syak. Sang Guru menyatakan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Petrus yang sedang besar hati pada waktu itu dengan kebanggaan sebagai orang yang mendapat pewahyuan mulai merasa perlu untuk mulai menjalankan perannya sebagai penasehat utama Sang Guru. Dia mengatakan, “Tuanku, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.

Untuk alasan yang tidak dimengerti Petrus, Sang Guru malah menghujaninya dengan ucapan keras. Sang Guru mengatakan, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.

Petrus pun terguncang.

Dia mulai sadar bahwa cita-citanya terancam. Sang Guru tidak lagi menaruh kasih kepadanya seperti dahulu karena jika kemaren dia dikatakan sebagai yang mendapat pewahyuan Bapa, maka sekarang dia dianggap Sang Guru sebagai orang yang memiliki pikiran Iblis.

Sejak saat itu Petrus selalu mencari kesempatan untuk membuktikan kepada Sang Guru bahwa dia masih pantas untuk menjadi murid nomor satu melebihi semua yang lain dan sekarang tibalah kesempatan itu. Sang Guru meramalkan semua murid akan meninggalkan diriNya dan Petrus ada di sana untuk menjamin bahwa apapun yang terjadi dia akan tetap setia demi memuktikan bahwa dia memang pantas untuk jadi murid nomor satu. Hatinya hanya bisa menduga apa yang akan terjadi namun dia tidak tahu bahwa Sang Guru tahu apa yang ada dalam pikirannya. Sang Guru tahu bahwa Petrus bukan mengatakan janjinya karena dia mengasihi Sang Guru, namun karena dia ingin membuktikan dirinya pantas untuk mendapat apa yang dia inginkan. Sang Guru tahu bahwa Petrus tidak ada ubahnya dengan para murid yang lain yang cuma ada untuk memanfaatkan Sang Guru untuk satu dan lain hal dalam hidup mereka. Sebelum dipanggil untuk menjadi murid, mereka bukanlah siapa-siapa selain kelompok nelayan miskin di danau Galilea. Sekarang mereka mulai menjadi sesuatu karena mereka mendapat juga pengaruh di masyrakat seperti halnya Sang Guru. Mereka pun telah dilatih oleh Sang Guru untuk mengadakan berbagai kesembuhan ilahi.

Berlawanan dengan harapan Petrus untuk kembali mendapat pujian dari Sang Guru, sekali lagi dia harus menelan kekecewaan. Sang Guru berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.

Apa? Petrus pun terkaget-kaget akan respon dari Sang Guru yang menganggap sepi niatannya untuk tetap setia apapun yang terjadi. Maka dia pun kembali berujar, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.

Sang Guru pun hanya bergumam dalam hatinya, “Engkau tidak tahu apa yang Engkau katakan.

Beberapa jam pun berlalu.

Taman Getsemani. Sekarang Sang Guru sudah dikerubumi pasukan pengawal Bait Suci yang dipimpin oleh Yudas Iskariot. Mereka ingin menangkap Sang Guru dan membawa kepada sidang Mahkamah Agama atas tuduhan telah menghujat yang Maha Kudus. Sang Guru pun dengan pasrah menyerahkan diriNya untuk ditangkap oleh kawanan pasukan itu.

Petrus menyadari situasi yang terjadi, digerakan oleh keinginannya untuk membuktikan kesetiaannya pada Sang Guru, mulai menghunus pedangnya dan berhasil menebas telinga kanan dari seseorang diantara rombongan pasukan. Bagi Petrus itu adalah tindakan kepahlawanan untuk membuktikan janjinya pada Sang Guru. Herannya Sang Guru pun menanggapinya dengan berbeda.

Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?

Petrus pun terdiam malu namun dia tidak putus asa untuk membuktikan janjinya pada Sang Guru meskipun telah dianggap sepi. Ketika murid-murid lain lari ketakutan menyelamatkan diri masing-masing, Petrus malah tetap membuntuti rombongan dari belakang hendak mengikuti kemanapun mereka pergi membawa Sang Guru.

Singkat cerita, Sang Guru pun disidang dihadapan Imam Besar dan imam-imam kepala yang merupakan otoritas agama Yahudi pada waktu itu. Mereka pun memvonis bersalah Sang Guru karena telah menghujat Yang Maha Kudus dan memberikan fatwa hukuman mati terhadapnya. Kumpulan massa emosional itu pun mulai menyerang Sang Guru dan memberi pukulan dan siksaan. Herannya Sang Guru tidak melawan sedikitpun. Dia tetap diam tanpa komentar seolah-olah pasrah seperti domba yang digiring ke pembantaian.

Hati Petrus mulai ketar-ketir. Jika saja Sang Guru mau menggunakan kemampuan ajaibnya pada malam hari itu maka dia yakin mereka berdua bisa keluar dari tempat neraka itu. Namun Sang Guru tidak menunjukkan tanda bahwa Dia mau melarikan diri.

Sekarang Petrus sendirian dalam arti tidak ada yang berdiri di sampingnya untuk membelanya. Di dalam kesepian itulah tiba-tiba seorang hamba perempuan mendatangi dia dan berkata, “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu.” Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: “Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.” Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: “Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.” Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: “Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.” Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Sekarang Petrus sendiri dan dia mulai menyadari bahwa dia telah gagal untuk menjadi murid nomor satu bagi Sang Guru. Terlebih lagi, dia mulai menyadari bahwa selama ini dia tidak benar-benar mengasihi Yesus dalam hatinya yang paling dalam namun sebenarnya dia hanya mengasihi dirinya sendiri. Ketika dalam situasi ditanyai seperti itu di malam kelam itu, dia harus memilih antara membela Tuannya atau membela dirinya sendiri. Akhirnya dia sadar bahwa dia sebenarnya tidak mau mati kehilangan nyawa demi Sang Guru karena dia takut kehilangan nyawanya sendiri.

Kira-kira sepuluh hari kemudian telah banyak hal yang terjadi. Penyaliban Yesus yang membawa kepada kematianNya dan juga kebangkitanNya pada hari ketiga. Sekarang Sang Guru pun menampakan diri di tepi danau Tiberias sementara para murid mulai berpikir untuk kembali ke karir nelayan mereka yang sempat terhenti selama tiga tahun. Akhirnya mereka berhasil mendapat banyak ikan pada hari itu dan mereka pun membawanya ke tepi untuk disantap bersama dengan Sang Guru.

Sesudah sarapan Sang Guru berkata kepada Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?

Sang Guru bertanya kepada Petrus sebuah pertanyaan yang langsung menusuk sampai ke dalam batinnya. Sang Guru bertanya apakah Petrus ‘agape’ (agape adalah kasih yang murni tanpa prasyarat) kepada diriNya lebih dari pada murid-murid yang lain. Bukankah selama ini Petrus selalu berpendapat bahwa dia pantas menjadi murid nomor satu karena dia mengasihi Sang Guru lebih dari pada yang lain? Dalam hati Petrus, dia sadar bahwa dia telah salah mengira dirinya selama ini. Ternyata Sang Guru justru lebih mengenal dirinya lebih dari pada dia mengenal dirinya sendiri.

Memori Petrus pun kembali ke malam dimana dia membuat perkataan bodoh bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Sang Guru yang ditanggapi dingin oleh Sang Guru dengan mengatakan Petrus akan menyangkalnya bukan hanya sekali, namun hingga tiga kali, dalam satu malam saja. Pada waktu itu terjadi pertengkaran di antara murid-murid tentang siapa yang paling besar dan Sang Guru pun sudah berpesan demikian kepada mereka:

Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.

Kalau saja pada saat itu Petrus benar-benar mendengarkan apa yang Sang Guru katakan. Sekarang Petrus dengan perasaan malu hanya mampu menjawab:

Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Petrus tidak berani menggunakan kata ‘agape’ di sini karena dia menggunakan kata kasih persahabatan ‘fileo’ di sini.

Sang Guru pun menjawab, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.

Petrus diberikan hak untuk menjadi murid nomor satu dengan diminta oleh Sang Guru untuk menggembalakan yang lain, namun Petrus masih tertunduk lesu karena dia sadar akan kelemahan dan kekurangan dirinya.

Sang Guru pun bertanya lagi untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Yesus kembali bertanya menggunakan kata ‘agape’

Air mata mulai keluar dari mata Petrus. Dia mulai teringat hari ketika para murid bertanya pada Sang Guru mengenai siapa yang terbesar di dalam kerajaan Surga. Pada hari itu Sang Guru sudah memanggil seorang anak kecil ke antara mereka dan membuat pernyataan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.”

Dengan gemetar Petrus pun menjawab Sang Guru dengan ucapan, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Petrus kembali menggunakan kata ‘fileo’

Maka Sang Guru pun kembali berkata, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.

Untuk ketiga kalinya pun Sang Guru kembali bertanya kepada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Kali ini Yesus menggunakan kata ‘fileo’

Petrus pun menangis tersedu-sedu.

Dia ingat kejadian beberapa malam sebelum dia menyangkal Sang Guru. Pada saat itu Sang Guru mengambil pakaian seorang budak membasuh kaki semua murid-murid. Petrus pada waktu itu bangkit sebagai orang yang menentang tindakan Sang Guru yang mungkin dianggapnya mulai tidak waras. Lagipula Petrus sangat ingin sekali menjadi penasehat utama Sang Guru dalam kerajaannya. Namun Sang Guru pada malam itu mendiamkannya sambil mengatakan perkataan yang menjadi misteri bagi para murid-murid:

Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Sekarang Petrus tersungkur di kaku Sang Guru penuh dengan air mata dan berkata, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.

Sang Guru kembali mengatakan untuk ketigakalinya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku

Tiba-tiba Sang Guru mulai mengatakan sesuatu mengenai masa depan Petrus. Dia berkata: “Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.

Sang Guru mengindikasikan bahwa Petrus pada akhirnya akan menjadi murid nomor satu dan membuktikan ucapannya bahwa dia siap mati untuk Sang Guru. Sekarang Sang Guru tahu bahwa Petrus sudah siap. Petrus sudah belajar apa artinya menjadi seperti anak kecil. Petrus sudah memiliki kunci untuk menjadi yang terbesar di dalam kerajaanNya.

Namun Petrus tetap penasaran apakah dia akan menjadi satu-satunya murid nomor satu bagi Sang Guru. Itu sebabnya dia bertanya pada Sang Guru tak lama kemudian mengenai Yohanes anak Zebedeus karena Petrus tahu bahwa Yohanes ada bersama Yesus pada saat penyaliban meskipun semua murid yang lain lari menyelamatkan nyawa masing-masing. “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?”

Sang Guru pun menjawab, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.

Catatan Tambahan:

Menurut tradisi gereja Katolik, Petrus mati lewat penyaliban di kota Roma. Berdasarkan kutipan dari entri di Wikipedia seperti ini:

Konon menurut tradisi, ia memang sedang dalam perjalanan meninggalkan Roma ketika ia berjumpa dengan Yesus di tengah jalan. Petrus bertanya kepada-Nya, “Tuhan hendak ke manakah Engkau pergi?” (dalam bahasa Latin: “Quo Vadis?”) Jawab Yesus, “Aku datang untuk disalibkan kedua kalinya.” Kemudian Petrus berbalik dan kembali ke Roma. Ia mengerti bahwa penglihatannya berarti bahwa ia harus menderita dan wafat bagi Yesus.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Furl
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Reddit
  • YahooMyWeb
  • Ma.gnolia
  • NewsVine

One Response

  1. Icha Says:

    Untuk memikul salib, perlu menyangkal ego, dan itu pun sekali lagi perlu kasih karunia Tuhan.

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.