More Than (Part 1)

Pemandu spiritual Brennan Manning sering berkata bahwa Allah mengasihi kita sebagaimana adanya diri kita dan bukan seperti yang seharusnya diri kita karena tidak ada dari kita yang hidup seperti sebagaimana harusnya kita hidup bagi Allah. Kasih Allah pada kita memang menakjubkan, tanpa batas, dan lebih tinggi dari apapun juga. Dalam lembar-lembar naskah Perjanjian Baru kata Gerika yang dipakai untuk menggambarkan kasih Allah adalah ‘agape’. Pemilihan kata ini memiliki arti yang sangat kuat karena agape bukan bicara mengenai kasih yang masuk akal, tapi lebih pada kasih yang diluar dari pada kewajaran.

Adalah wajar untuk mengasihi mereka yang mengasihi kita, namun adalah ketidakwajaran untuk memperlakukan mereka yang jahat kepada kita dengan perlakuan yang sama seperti terhadap mereka yang mengasihi kita. Adalah wajar untuk mengasihi sesuai dengan kebutuhan kasih yang diharapkan dari objek kasih, namun adalah ketidakwajaran untuk memberikan kasih over the limit, dengan melakukan lebih daripada yang diminta atau diharapkan.

Namun inilah gambaran agape yang coba dijelaskan oleh Yesus kepada murid-muridNya 2000 tahun yang lalu di sebuah bukit di tanah Palestina. Kata-kata nyaring dari Yesus sangat mengguncang setiap hati mereka yang mendengar karena diucapkan seperti pedang yang menancap pada tubuh. Yesus berkata, “Kalian tahu bahwa ada juga ajaran seperti ini: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu: jangan membalas dendam terhadap orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya kalau orang menampar pipi kananmu, biarkanlah dia menampar pipi kirimu juga. Dan jikalau orang mengadukan kalian kepada hakim dan menuntut bajumu, berikanlah kepadanya jubahmu juga. Kalau seorang penguasa memaksa kalian memikul barangnya sejauh satu kilometer, pikullah sejauh dua kilometer. Kalau orang minta sesuatu kepadamu, berikanlah kepadanya. Dan jangan juga menolak orang yang mau meminjam sesuatu daripadamu.Kalian tahu bahwa ada juga ajaran seperti ini: cintailah kawan-kawanmu dan bencilah musuh-musuhmu. Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu: cintailah musuh-musuhmu, dan doakanlah orang-orang yang menganiaya kalian, supaya kalian menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.” ( Matius 5: 38-45a, BIS)

Agape bicara mengenai kasih yang melewati batas kewajaran dari kasih. Kalau ada yang sanggup untuk memberikan contoh agape pada levelnya yang paling agape, maka itu adalah agape yang diberikan Allah kepada kita. Kasih Allah pada kita tidak bisa diukur menurut ukuran manusia mengasihi, namun untuk membayangkannya kita harus mengalikan kemampuan terbaik manusia untuk mengasihi hingga seribu kali, atau bahkan sejuta kali, karena Allah memang tanpa batas dan juga memiliki kemampuan untuk memberi tanpa batas juga. Kalau Allah memberikan contoh mengasihi yang ekstrim bagi manusia dalam khotbah di bukit, maka sudah dapat dipastikan bahwa Ia sanggup melakukan lebih dari standar yang dibuat olehNya untuk manusia.

“Supaya kalian jadi sama seperti Abba kalian di surga,” demikian Yesus menjelaskan. Abba yang dilukiskan oleh Yesus adalah sosok figur bapak yang “menerbitkan matahari-Nya untuk orang yang baik dan untuk orang yang jahat juga. Ia menurunkan hujan untuk orang yang berbuat benar dan untuk orang yang berbuat jahat juga.”

Agape bicara kasih tanpa syarat. Agape bicara pemberian yang diberikan dengan cuma-cuma terlepas dari reaksi si penerima. Bukan agape namanya jika setelah diberikan lantas lalu ditarik kembali karena dirasa si penerima agape tidak mampu untuk membalas budi. Agape bukan lagi agape jika diberikan dengan prasyarat tertentu. Agape Allah kepada kita berbicara mengenai Allah mengasihi kita karena Dia adalah kasih, bukan karena kita telah berbuat sesuatu yang membuat kita pantas untuk mendapatkan kasih Allah.

Agape berasal dari akar kata ‘agan’ yang berarti ‘berlimpah’. Agape diberikan dalam konteks tanpa ukuran dan tidak ditakar. Allah tidak membedakan kasih yang Dia beri kepada kita berdasarkan kelayakan kita untuk menerima kasih itu. Dia memberi dalam sukacita seorang yang begitu mabuk cinta sehingga sanggup berkata pada yang dikasihiNya, “minta apa saja, maka akan aku beri kepadamu.”

Agape Allah pada kita ditunjukkan dengan memberikan Yesus, AnakNya yang tunggal untuk mati menebus dosa-dosa manusia. Tidak ada pemberian yang lebih baik dari pada Allah Tritunggal dibanding memberikan diriNya sendiri dengan mengorbankan harga diri, semarak kemuliaan ilahi, dan kemahakuasaan sebagai Allah hanya demi menyelamatkan sekelompok kecil para pemberontak.

Alkitab menyatakan Allah lebih dahulu mengasihi kita sebelum kita mengasihi Dia atau bahkan sebelum kita mengerti apa itu kasih. Sebelum Yesus datang, kita, manusia adalah makhluk ciptaan yang diciptakan dengan spesial (lihat kidung dalam Mazmur pasal delapan) namun tidak tahu diri dengan tidak berbuat yang sepantasnya, namun malah hidup dalam pemberontakan dan penuh dengan lumuran dosa terhadap Allah yang esa. Tidak ada yang telah dilakukan manusia manapun yang membuat manusia layak untuk mendapat kasih dari Allah. Bahkan sekelompok kecil orang kudus di masa itu pun adalah juga orang-orang yang menyakiti hati Allah. Nuh, Abraham, Musa, Daud, Elia dan siapapun yang dikatakan bergaul dengan Allah juga pada titik tertentu dalam hidup mereka memilih jalan dan keputusan yang mengecewakan bagi Yang Maha Kuasa. Singkat kata, kita tidak layak untuk menerima pemberian Allah hingga ketika Allah turun sendiri ke bumi dalam rupa manusia, menanggalkan semua kemuliaan surga, mengorbankan segala sesuatu kemudahan sebagai ilahi, Dia pun masih harus mengalami penolakan dari manusia. Umat pilihanNya sendiri, keturunan Abraham, harus melecehkan Dia dengan memberiNya mimpi buruk selama masa hidup Yesus di bumi.

Yesus pun mencurahkan isi hatinya dalam kisah yang diceritakanNya dalam hati yang galau. “Dengarkan perumpamaan yang satu ini lagi,” kata Yesus. “Seorang tuan tanah menanami sebidang kebun anggur. Ia memasang pagar di sekelilingnya, dan menggali lubang untuk alat pemeras anggur, kemudian mendirikan menara jaga. Sesudah itu ia menyewakan kebun anggur itu kepada penggarap-penggarap, lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah sampai musim petik buah anggur, tuan tanah itu mengirim pelayan-pelayannya kepada penggarap-penggarap kebun itu untuk menerima bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap kebun itu menangkap pelayan-pelayan tuan tanah itu: Yang seorang dipukul, yang lain dibunuh, dan yang lain lagi dilempari batu. Tuan tanah itu mengirim lagi pelayan-pelayan lain, lebih banyak dari yang pertama kalinya. Tetapi mereka diperlakukan dengan cara yang sama. Akhirnya tuan tanah itu mengirim kepada mereka anaknya sendiri. ‘Pasti anak saya akan dihormati,’ pikirnya. Tetapi ketika penggarap-penggarap kebun itu melihat anak tuan tanah itu, mereka berkata satu sama lain, ‘Nah, ini dia, ahli warisnya. Mari kita bunuh dia, supaya kita mendapat warisannya!’ Maka anak itu ditangkap, dibuang ke luar, lalu dibunuh.” (Matius 21: 33-39, BIS)

Kenyataan bahwa kita yang telah membunuh Yesus (secara tidak langsung dengan dosa-dosa kita) sebenarnya membuat kita tidak layak untuk menerima pemberian apapun dari Allah. Namun Yesus mati untuk semua orang, orang baik atau orang jahat, anak sulung atau anak bungsu, tahu balas budi dan tidak tahu balas budi. Agape telah diberikan, kasih Allah telah diberikan terlepas dari reaksi kita setelah kasih itu diberikan, kasih itu akan tetap diberikan dan Yesus tidak akan pernah masuk ke dalam mesin waktu, kembali ke Golgota, dan merubah keputusanNya untuk mati bagi keselamatan kita, cuma karena kita tidak mau membalas jasa baikNya.

Suatu ketika ada seorang muda yang sedang duduk memandang ke arah sungai Gangga di India. Pandangannya ditujukan kepada seorang petapa tua yang menghabiskan hari-harinya dengan berdoa di tepi sungai tersebut. Ketika petapa itu mengakhiri doa hariannya, dia membuka matanya dan melihat ada seekor kalajengking yang terhanyut di sungai dan nyaris mati terbawa arus. Petapa itu tergerak oleh belas kasihan dan mulai mengarahkan tangannya untuk menarik kalajengking tersebut. Apa boleh buat ketika dia menggenggam binatang itu, binatang itu menyengatnya sehingga dengan terpaksa dia harus melepas kembali kalajengking beracun itu. Namun petapa itu tidak menyerah, kali ini dia hendak menggunakan kakinya untuk menarik kalajengking terhanyut itu kembali ke darat. Orang muda yang dari tadi melihat kelakuan petapa tua itu pun bangkit berdiri dan berseru kepada si petapa tua itu, “Hei pak tua, buat apa kamu mengorbankan dirimu sendiri demi menyelamatkan seekor binatang jelek dan tidak tahu berterimakasih itu? Apa kamu sudah gila?” Petapa itu menyahut, “sekalipun adalah sifat kalajengking ini untuk menyengat, itu tidak akan mengubah sifatku untuk menyelamatkan.” Laki-laki tua itu pun mengulurkan kakinya, kembali disengat oleh kalajengking beracun itu, dan tak lama kemudian meninggal dunia.

Love is blind sometimes, so does also with the love of God. Agape diberikan dalam kapasitas lebih dari apa yang mampu diberikan dengan tujuan agar kita boleh terbangun dan tersadar bahwa kita beharga di mata Allah. Yang menyebabkan manusia jatuh dalam dosa ialah mereka kehilangan gambaran tentang apa artinya menjadi serupa dan segambar dengan Sang Pencipta. Kasih Allah diberikan dengan melimpah agar kita boleh datang dan mendapatkan Dia.

Perlu diingat bahwa saya tidak sedang mengajarkan bahwa semua orang akan diselamatkan dari siksaan kekal nereka karena Allah tidak tega manusia menderita seperti yang diajarkan Universalisme. Akan tetap ada mereka yang beroleh selamat dan mereka tidak beroleh keselamatan. Ketika undangan diberikan, akan ada orang yang bersemangat dan mereka yang menolak untuk datang. Mereka yang menerima kasih Kristus dalam kerendahhatian akan mendapatkan kerajaan surga, mereka yang dalam kesombongan menolak mengakui karya kasih Allah di kayu salib sedang mendaftarkan diri menuju kebinasaan kekal.

Yesus berkata sebuah kisah lain yang menjelaskan akan hal ini, “Pada suatu waktu ada seorang mengadakan pesta yang besar dan mengundang banyak orang. Ketika sudah waktunya untuk mulai pesta, orang itu menyuruh pelayannya pergi kepada para undangan dan berkata, ‘Silakan datang, semuanya sudah siap!’ Tetapi mereka semua, seorang demi seorang mulai minta maaf. Yang pertama berkata kepada pelayan itu, ‘Saya baru saja membeli sebidang tanah, dan perlu pergi memeriksanya. Maafkanlah saya.’ Yang lain berkata, ‘Saya baru membeli lima pasang lembu, dan hendak mencoba lembu-lembu itu. Maafkanlah saya.’ Yang lain lagi berkata, ‘Saya baru saja kawin, karena itu saya tidak dapat datang.’ Pelayan itu pulang dan memberitahukan hal itu kepada tuannya. Tuan itu marah sekali, dan berkata kepada pelayannya, ‘Cepatlah pergi ke jalan-jalan dan gang-gang di kota. Bawalah ke mari orang miskin, orang cacat, orang buta dan orang lumpuh.’ Kemudian pelayan itu berkata, ‘Tuan, perintah Tuan sudah dijalankan, tetapi tempat masih banyak.’ Lalu tuan itu berkata, ‘Pergilah ke jalan-jalan raya dan lorong-lorong di luar kota, dan desaklah orang-orang datang, supaya rumah saya penuh. Ingatlah! Tidak seorang pun dari antara tamu-tamu yang sudah diundang itu akan menikmati makanan pesta saya ini!’” (Lukas 14:16-24, BIS)

Apakah anda siap untuk datang ke perjamuan sudah limpah disediakan oleh Allah dalam agapeNya? Apakah anda siap untuk merendahkan diri, menyangkal keangkuhan anda yang menyangka bahwa anda akan masuk ke dalam perjamuan Allah dengan usaha anda sendiri, dan menyadari bahwa tanpa anugerah Allah anda akan disesatkan selamanya? Maukah anda menyadari Allah telah melakukan lebih dari apa yang sanggup sebuah kasih dapat lakukan dan bertekuklutut dan mengaku Yesus sebagai penyelamat sejati jiwa anda dan bahwa tidak ada yang dapat anda lakukan dari diri anda sendiri yang membuat anda layak mendapatkan kasih itu. Maukah anda mengakui bahwa agape memang terdengar sangat manis, sebegitu manisnya sehingga nyaris tidak dapat dipercaya?

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Furl
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Reddit
  • YahooMyWeb
  • Ma.gnolia
  • NewsVine

One Response

  1. Batu Says:

    Artikel yang bagus sekali..

    saya selalu terinspirasi setiap membaca artikel XW..

    selalu menjadi bahan perenungan untuk pertumbuhan rohani saya..

    maju terus WX, sampai seluruh bumi penuh kemuliaan TUHAN..

    Gbu.

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.