Pelajaran Iman Dari Seorang Anak Kecil

Okay… Finally I try to share experience here… :-)

Saya suka sekali bermain dengan keponakan saya. Tepatnya, bermain sambil mengawasi. Karena setiap saat ada saja kemungkinan si bocah terjatuh, atau terpentok meja, tepatnya segala macam benda keras yang dapat membentur kepalanya.

Nama anak itu Debora. Sering kali saya dapat memetik pelajaran darinya. Tapi meskipun tidak selalu, saya menikmati. Tak peduli tubuh saya menjadi lelah dan berkeringat. Saya percaya, pasti itu bukanlah hal yang aneh. Singkatnya, bukan hanya saya yang begitu. :-)

Pelajaran iman. Saya merasa diingatkan kembali oleh Tuhan, meskipun alatnya hanyalah seorang anak-kecil berusia 2 tahun lebih sedikit. Diantara gelak tawa saya, memperhatikan tingkahnya, hati saya terasa bergejolak. Sepertinya Tuhan sedang menunjukkan saya dengan telunjukNya, akan satu hal.

… Pada saat itu, kakak ipar saya yang sudah lebih pandai mengurus anak-anak, sedang bermain dengan Debora. Ia mengeluarkan ‘jurus-jurus jitu’, jebakan bagi seorang anak balita yang belum tahu apa-apa. Tujuannya supaya kami semua tertawa. :-)

“Mau ngga??” Kakak ipar saya, alias tante dari Debora, menawarkan sebuah cabai-rawit kepada Debora. Sambil menikmati makan siang.

Debora, yang sudah pernah merasakan pedasnya dan betapa tidak enak rasanya, spontan menggelengkan kepalanya. Diikuti tawa kami yang terbahak-bahak melihat ekspresinya yang menunjukkan sikap anti.

“Eh, manis, lo! Nih, liat…” tidak mau sampai di situ saja, kakak ipar saya terus merayunya, dengan tipu muslihatnya seolah-olah sedang menikmati manisnya.

Tapi dengan yakinnya anak itu malah mempraktekkan pengalamannya kepedasan, “SssHAAHH..” sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tegas, dan mulutnya dibuka besar-besar. Rambutnya yang kriwilpun ikut bergoyang-goyang.

Spontan kami tertawa-tawa lagi. Termasuk saya dan tak ketinggalan anak itupun tertawa. Meskipun tidak mengerti benar apa yang kami tertawakan, tapi yang pasti hatinya merasakan kesenangan.

…..

Saya sempat heran dalam hati, di antara perasaan senang karena melihatnya yang senang berkumpul bersama-sama pada waktu itu. Ya, tepatnya mungkin kagum. Kagum dengan pertumbuhannya yang baik sekali.

Thank, God!

Tapi bukan cuma itu. Pelajaran iman yang Tuhan ingatkan adalah: coba dulu Hawa juga menolak rayuan si ular segigih anak kecil itu. (Haha..!) Tentunya bukan berarti kakak saya itu ular. Meskipun saya tidak tahu bagaimana bentuk buah yang Tuhan larang mereka makan itu. Katanya seperti apel, ya? :-D

Tapi itu kan sudah berlalu ya? Sekarang bagaimana ke depannya, itu yang mesti kita usahakan, bukan?

Seperti di saat-saat terjepit, biasanya di lingkungan sosial yang menuntut sikap “bersahabat” kita, apa yang harus kita lakukan? Saya rasa banyak hal lain lagi, yang digunakan iblis sebagai trik untuk melemahkan kesadaran iman kita, selain dengan merayu seperti yang dialami Hawa maupun keponakan saya tadi. Dan kitapun seringkali terjerat. Meskipun sepertinya cuma sekadar ucapan di mulut, tapi tetap saja…

Sekarang, alangkah bersyukurnya saya. Karena sekarang saya tahu, Tuhan memperlengkapi kita cara mengusir segala rasa yang ingin menyergap dan melemahkan iman kita. Tak lain adalah dengan beriman. Bukan dengan bimbang seperti Hawa, melainkan dengan pasti seperti yang dicontohkan keponakan saya. :-D

Thank You, God!

Lukas 17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.