Siapakah yang menguasai hatiku? Belakangan ini selalu saja pertanyaan ini muncul. Binun juga jawabnya karena aku pun tak tau mau menyebut siapa penguasanya. Secara logika, harusnya aku berkata kalau Kristus-lah yang menjadi penguasa hatiku, namun aku harus jujur padaNya.
Saat aku merasa iri hati, maka keinginan dagingku-lah yang menjadi penguasa hatiku. Saat aku merasa rendah diri, maka intimidasi-lah yang menjadi penguasa hatiku. Saat aku merasa sakit hati dan tidak mau mengampuni, maka aku telah menyangkali karya salib Kristus. Saat aku lebih memilih untuk membeli apapun yang aku suka padahal belum tentu aku perlukan, maka aku telah menjadikan keinginan mata sebagai penguasa hati ini. Saat aku meremehkan orang lain, maka hati ini telah dikuasai oleh keangkuhan hidup. Saat aku lebih memikirkan pasanganku daripada Tuhan, maka aku telah mempunyai berhala dalam hidupku. Saat aku kembali jatuh dalam dosa, maka aku mengingkari darah penebusan yang sudah Kristus berikan padaku secara gratis.
Apakah yang paling kuanggap berharga dalam hidup ini? Logika ini tentunya memilih TUHAN sebagai sosok yang paling berharga dalam hidup ini, namun dalam praktek sehari-hari aku seringkali memilih yang lain.
Bila keuanganku hancur dan aku tidak memiliki pekerjaan lagi, apakah aku tetap memilih TUHAN ketika mendapat tawaran bekerja dengan bayaran yang sangat tinggi namun pekerjaan tersebut tidak berkenan di hati TUHAN?
Bila aku telah mengalami sakit kronis dan menjalani pengobatan medis selama bertahun-tahun, adakah aku memilih TUHAN ketika ada tawaran untuk sembuh asalkan aku tidak beribadah lagi pada Kristus?
Bila kehidupan sosial yang aku jalani saat ini mengharuskan aku untuk menghujat karya penebusan Kristus, apakah aku akan melakukannya supaya boleh tetap diterima dalam lingkungan yang nyaman itu?
Dan bila tiba waktu untuk memilih yang paling berharga, manakah yang kupilih antara keluarga dan TUHAN?
Apakah aku rela melepaskan semua kenyamanan hidup, harta, kesehatan, kehidupan sosial dan keluargaku demi berkenan bagi Kristus? Apakah aku rela mengosongkan semua berhala dalam hati ini supaya Kristus boleh datang dan berkuasa dalam hatiku?
Sampai saat ini aku menuliskannya, aku masih belum mendapatkan jawaban yang pasti, namun aku mau berusaha semaksimal mungkin supaya panggilan dan kesempatan itu tidak berlalu begitu saja dariku. Apapun yang menjadi pilihanku, aku mau invest hidupku pada nilai-nilai yang bersifat kekekalan. Dalam perjalanannya pasti akan ada jatuh bangun namun aku tetap percaya pada kuat Tangan Yang Menopang diri ini. Genggaman tangan imanku boleh saja menjadi lemah namun itu tidak berarti Sang Maha melupakan bahkan meninggalkan diriku.
Thank You Lord for another new chance given in my life. Please forgive all my trespasses and conquer my heart wholly for the glory of Your Name. Amen.

















August 7th, 2008 at 8:29 am
Teori ama praktek beda ya.. tapi kalo terus mengeluh jg ga baik, mending mulai dari yg kecil dilakukan. Tapi sayang, kenapa kita ga selamanya sadar..