Pesan Khusus untuk Setiap Anak

Saya percaya sebuah pesan yang berbunyi ‘Hormatilah Kedua Orang Tuamu!’ bukanlah kalimat yang asing kita dengar, bahkan merupakan bagian dari perintah dan pesan khusus yang Tuhan berikan kepada umat-Nya.

Suatu hari suami saya bercerita tentang bagaimana ayahnya meninggal dunia di ‘Nursing Home’ dan dia berpesan agar apabila dia sudah tua nanti dan mungkin sakit-sakitan, agar saya tak akan mengirimkannya ke ‘Nursing Home’.  Dia tidak ingin seperti ayahnya yang menikmati sisa hidupnya di tempat asing yang jauh dari anggota keluarganya.

Saya bertanya kepadanya, siapa yang mengirimkannya ke ‘Nursing Home’?  Jawabannya adalah ibunya yang juga memiliki kondisi kesehatan tubuh yang tidak baik pula, sedangkan ketujuh orang kakak-kakaknya tinggal di luar kota bahkan ada juga di Negara bagian lainnya.  Hanya seorang kakak laki-lakinya yang tinggal bersama orang tuanya yang pernah membantu merawat ayahnya.  Tapi oleh karena keadaan yang tidak memungkinkan, dua orang sakit secara bersamaan dalam satu rumah dan hanya ditemani oleh seorang anak merupakan problema yang sangat berat dan tentu membuat stress kakaknya.  Untuk itu ibunya pun dengan sangat berat hati, mau tidak mau akhirnya mengirimkan ayahnya ke ‘Nursing Home’ untuk mengurangi beban kakaknya dan tentu saja untuk kemajuan kesehatan suaminya.

Kasus lain yang berbeda tetapi memiliki thema yang sama.  Saya mengenal seseorang yang cukup dekat dengan saya bercerita bahwa ayahnya meninggal di rumah dengan tenang dan tampak raut mukanya tersenyum pada saat ajal tiba.  Dia sendiri yang merawat ayahnya dengan kedua tangannya, baik itu untuk membersihkan saat ayahnya buang air kecil atau pun air besar.  Dia melakukannya dengan segenap hati meski dia mendapatkan dorongan dari seorang kakaknya untuk mengirimkan ayahnya ke ‘Nursing Home’ agar tidak merepotkan dirinya dan keluarga lain tetapi dia menolaknya.  Dia mengungkapkan isi hatinya bahwa ‘Nursing Home’ bukanlah tempat seperti itu.   Dia dan seorang kakaknya hidup di kota yang sama dan tak berjauhan.  Dia sendiri masih hidup bersama serumah dengan ayahnya.  Saat ayahnya sakit, tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa tinggal saja di atas tempat tidur, lalu dikirim ke ‘Nursing Home’ bukanlah ungkapan dan keputusan seorang anak yang berbudi dan berbakti kepada orang tua.  Dia berkata tidak akan pernah mengirimkan ayahnya ke ‘Nursing Home’, lebih baik dia mencari perawat lainnya untuk datang menjenguknya beberapa kali seminggu atau membayar perawat lainnya untuk membantunya merawat sang ayah.  Dia menjelaskan apabila dia mengirimkan ayahnya ke ‘Nursing Home’, tampaknya sang ayah hanya dianggap sebagai sampah saja oleh anak-anaknya yang dibuang karena sudah tidak berguna lagi.

Saya sangat terkesan dengan apa yang telah dijelaskannya dan tidak menyangka ada juga seorang Amerika yang masih berpikir demikian sementara di sana banyak sekali bertebaran ‘Nursing Home’ yang umumnya para penghuninya adalah mereka yang sudah tua dan masih memiliki keluarga sendiri.  Berbeda dengan panti-panti jompo di Indonesia yang umumnya para penghuninya adalah mereka yang sudah jompo dan tidak memiliki keluarga lagi, sehingga layaklah mereka tinggal di sana sehingga bertemu dengan mereka yang memiliki kondisi yang sama.  Mereka akan memiliki teman-teman dalam komunitasnya.  Selain itu, mereka akan terawat di bawah pengawasan yang baik oleh para professional.

Terlepas dari kedua cerita di atas dan kembali pada sebuah pesan “Hormatilah kedua orang tuamu!” - kasus cerita pertama dan kedua memiliki latar belakang yang berbeda.  Cerita pertama menunjukkan bahwa mengirim sang suami ke ‘Nursing Home’ oleh karena keadaan yang telah menjadi alternatif final, yaitu apabila sang suami masih akan tetap tinggal di rumah akan mendapatkan perawatan dan pengawasan yang tidak optimal oleh karena kondisi yang tak memungkinkan.  Sedangkan kasus cerita kedua, rekan saya mempertahankan ayahnya untuk tetap tinggal di rumah karena dia merasa mampu dan berkeinginan untuk merawatnya sendiri.  Menurut saya secara pribadi, dia telah sangat menghormati orang tuanya meski pada saat sang ayah sudah tidak memiliki kekuatan lagi secara fisik tetapi dia menunjukkan kasih sayangnya dengan tidak mengirimkan begitu saja sang ayah ke ‘Nursing Home’.

Cerita rekan saya mengingatkan akan kisah saya sendiri beserta adik saya.  Di masa muda kami berdua telah berhadapan dengan profesi sebagai perawat dadakan.  Pada saat saya masih berusia tiga belas tahun, saya telah membantu merawat nenek yang sakit, dari mengganti pakaiannya, menyuapinya, membersihkan badannya, sampai melayaninya saat buang air besar dan kecil di atas tempat tidur.  Semua dikerjakan bersama-sama antara kakek, tante dan saya sendiri secara bergantian dan kami semua melakukannya dengan segenap hati.

Sedangkan adik laki-laki saya sepuluh tahun kemudian pada saat masih berada di bangku kuliah telah diperhadapkan dengan merawat kakek yang sedang sakit di rumah sakit.  Tentu saja hal tersebut sangat mengganggu kuliahnya.  Dia tidak dapat berkonsentrasi dengan baik dengan mata-mata kuliah yang sedang diberikan saat itu, sehingga membuat nilai-nilainya sedikit jatuh.   Tidak ada tante-tante lagi yang membantu merawatnya karena mereka semua telah berkeluarga dan tinggal di luar kota.  Mereka hanya dapat menjenguk dan membantu hal-hal lainnya.  Nenek pun tidak dapat membantu karena dia sendiri dalam keadaan sakit.  Banyak tetangga dan mereka, baik yang kami berdua kenal ataupun tidak, berdoa agar saya dan adik saya akan mendapatkan balasan yang setimpal sesuai dengan apa yang kami sudah berdua lakukan.  Terkadang mereka terheran-heran bahwa kami bedua layaknya seperti anak bukan cucu dalam merawat mereka.  Kami katakan kepada mereka bahwa mereka juga adalah orang tua kami karena ibu kami telah meninggal dunia sejak kami balita dan ayah kami selalu bertugas menjalankan tugas Negara, baik keluar pulau atau keluar negeri, sehingga mereka berdualah yang merawat kami sejak kecil.

Ternyata dari perjalanan hidup kami berdua setelah itu mengalami begitu banyak berkat dan keajaiban-keajaiban yang terjadi.  Kami berdua yakin bahwa hal itu bukan saja oleh karena doa-doa mereka tetapi seperti apa yang pernah Tuhan firmankan “Hormatilah kedua orang tuamu!” Mereka yang menjalankan perintah-Nya sudah tentu tidak perlu diragukan lagi kira-kira berkat apa yang akan mengalir dalam kehidupan mereka.

Kakek dan nenek kami adalah orang tua kami juga pada saat itu dan kami berdua wajib merawatnya meski dalam keadaan apapun sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan kami berdua kepada mereka.

Menghormati orang tua tidak hanya dalam bentuk peduli dan merawat mereka pada saat mereka sudah tidak berdaya lagi, tetapi juga dengan memberikan perhatian dan berdoa untuk mereka dalam keseharian kita merupakan wujud penghormatan kita kepada mereka.  Apakah Anda telah melakukan hal-hal tersebut???(*)

(This writing is dedicated to my brother who will celebrate his birtday next month)

Tulisan ini telah ditayangkan juga di HOKI dengan link:  http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=5&jd=Pesan+Khusus+untuk+Setiap+Anak&dn=20090728015200

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.