Jan 14

Di Balik Selubung

Sekarang anda bisa bebas mengunduh dengan gratis Ebook terbaru dari Cross-Written Production yang berjudul “Di Balik Selubung” yang ditulis oleh almarhum misionaris H.A. Baker dan diterjemahkan oleh Santi Erawaty. Ebook ini berisi kesaksian mengenai lawatan Tuhan atas anak-anak di panti asuhan Adulam yang diasuh oleh Baker di China pada awal abad 20. Begitu kuatnya lawatan Tuhan, hingga anak-anak ini mengalami beragam pengalaman rohani dan mendapatkan penglihatan akan surga, neraka, dan masa yang akan datang. Ebook ini sangat amat kami rekomendasikan untuk anda semua yang haus untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Anda bebas untuk mengunduh dan membagikan secara cuma-cuma untuk kemuliaan nama Tuhan.

Read the rest of this entry »

Jan 24

“Happy ? (baca “niú“) Year” , ini cara penyampaian “Selamat Tahun Baru Imlek” (????, y?n lì x?n nián) yang sedang “in” di China, yang telah terimbas oleh budaya barat.

Pemakaian aksara ?, (niú, kerbau/ sapi) lafalnya mirip dengan kata Inggris “new” (baru). Tahun baru Imlek adalah pergantian kalender traditional rakyat China. Hal tersebut juga dirayakan karena tahun baru artinya musin dingin berlalu, datangnya musim semi, saatnya memulai musim cocok-tanam. Maka, Imlek adalah “Perayaan Tani”, kali ini jatuh pada tanggal 26 Januari 2009.

Para perantau/ komunitas Tionghoa di Indonesia selama lebih dari lima puluh tahun harus merayakan tahun baru Imlek di bawah bayang-bayang larangan pemerintahan Order Lama dan Order Baru. Secara hukum pelarangan perayaan ini adalah Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967. Diskriminasi etnis adalah warisan Belanda dan berlaku sejak jaman Jajahan Belanda sampai era reformasi. Pada tahun 2000, pada pemerintahan Gusdur, beliau mencabut Inpres tsb, kemudian pada pemerintahan Megawati menindaklanjutinya dengan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional. Dengan demikian etnis dan budaya Tionghoa diakui eksistensinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang integral dan aset budaya bangsa yang besar.

Read the rest of this entry »

Jul 30

Image

“Tidak ada Juruselamat dunia, tidak ada Tuhan!” demikian secuplik lyric lagu The Internationale, yaitu lagu wajib kaum komunis yang menolak keberadaan penguasaan Ilahi. Agaknya mustahil apabila ada pemerintah dengan sistem komunis memprakarsai mencetak sebuah Kitab-Suci sebuah “agama” yang mengakui keberadaan Tuhan dan Sang Juruselamat. Namun, yang mustahil itulah yang kini sedang terjadi dan beritanya masih hangat disiarkan di berbagai berita di jaringan TV Nasional CCTV dan beberapa TV asing beberapa hari ini.

Terhadap penyelenggaraan Olimpiade di Beijing, pemerintah setempat mendapat banyak pergunjingan dari berbagai pihak, terutama pihak barat, hal-hal yang berkaitan dengan isu HAM termasuk kebebasan beragama, baik dari kaum sekuler maupun kaum religius Kristiani. Ada beberapa website Kristen yang menulis adanya larangan para atlit dan pengunjung asing membawa Alkitab masuk ke China, dan rumor bahwa Alkitab di China hanya dapat diperoleh dengan menyelundup/ rahasia, dan juga rumor bahwa sampai sekarang hanya ada gereja bawah tanah disana. Untuk menanggapi rumor tersebut, Pemerintah China tidak memakai cara-cara kekerasan atau dengan cara diplomasi verbal menolak rumor tersebut, sebaliknya mereka memakai cara diplomasi yang elegan untuk menggapinya yaitu dengan tindakan membagikan-bagikan Alkitab edisi Olimpiade Beijing secara gratis yang disebar di gereja-gereja di Beijing untuk para pengunjung dan di kawasan ‘Olympic Village’ bagi para Atlit yang memerlukannya. Plus mereka menjamin tidak ada larangan gereja harus tutup, semua orang boleh ke gereja kapan saja. Mereka berusaha menjadi tuan-rumah yang baik, sebagai penyelenggara yang baik, mereka bahkan mengharuskan semua tempat dugem/ nite-club/ karaoke tutup total selama Olimpiade, ini lebih-lebih dari masa Ramadhan disini. Suatu langkah yang ‘pintar’ untuk membungkam rumor.

Read the rest of this entry »