Jul 30

Image

“Tidak ada Juruselamat dunia, tidak ada Tuhan!” demikian secuplik lyric lagu The Internationale, yaitu lagu wajib kaum komunis yang menolak keberadaan penguasaan Ilahi. Agaknya mustahil apabila ada pemerintah dengan sistem komunis memprakarsai mencetak sebuah Kitab-Suci sebuah “agama” yang mengakui keberadaan Tuhan dan Sang Juruselamat. Namun, yang mustahil itulah yang kini sedang terjadi dan beritanya masih hangat disiarkan di berbagai berita di jaringan TV Nasional CCTV dan beberapa TV asing beberapa hari ini.

Terhadap penyelenggaraan Olimpiade di Beijing, pemerintah setempat mendapat banyak pergunjingan dari berbagai pihak, terutama pihak barat, hal-hal yang berkaitan dengan isu HAM termasuk kebebasan beragama, baik dari kaum sekuler maupun kaum religius Kristiani. Ada beberapa website Kristen yang menulis adanya larangan para atlit dan pengunjung asing membawa Alkitab masuk ke China, dan rumor bahwa Alkitab di China hanya dapat diperoleh dengan menyelundup/ rahasia, dan juga rumor bahwa sampai sekarang hanya ada gereja bawah tanah disana. Untuk menanggapi rumor tersebut, Pemerintah China tidak memakai cara-cara kekerasan atau dengan cara diplomasi verbal menolak rumor tersebut, sebaliknya mereka memakai cara diplomasi yang elegan untuk menggapinya yaitu dengan tindakan membagikan-bagikan Alkitab edisi Olimpiade Beijing secara gratis yang disebar di gereja-gereja di Beijing untuk para pengunjung dan di kawasan ‘Olympic Village’ bagi para Atlit yang memerlukannya. Plus mereka menjamin tidak ada larangan gereja harus tutup, semua orang boleh ke gereja kapan saja. Mereka berusaha menjadi tuan-rumah yang baik, sebagai penyelenggara yang baik, mereka bahkan mengharuskan semua tempat dugem/ nite-club/ karaoke tutup total selama Olimpiade, ini lebih-lebih dari masa Ramadhan disini. Suatu langkah yang ‘pintar’ untuk membungkam rumor.

Read the rest of this entry »

Jan 2

Kekristenan adalah relasi (hubungan) dan relasi adalah segalanya. Kristianitas menempatkan relasi dan bukan aturan-aturan agamawi. Kristianitas meyakini hubungan pribadi melebihi filosofi dan aktifitas keagamaan. Relasi kita dengan Allah yang menciptakan kita adalah segala-galanya. Yesus berkata bahwa “hukum” yang paling utama adalah mengasihi Allah, lalu diikuti mengasihi sesama kita. Tiada lain, Hukum Kristus adalah relasi! Dan ibadahnya bukanlah ritus-ritus aturan, melainkan relasi kasih diantara makhluk dengan Sang Khalik dan antara makhluk dengan makhluk dan. Itulah sistem dan “aturan”Nya yang terutama. Relasi tidak akan terjadi tanpa komunikasi. Doa adalah sarana komunikasi kita dengan Allah. Dan komunikasi ini tidak hanya berlaku secara vertikal melainkan juga secara horizontal, yaitu komunikasi antar sesama.

Ketika Kekristenan berubah menjadi institusi keagamaan dan menjadi “agama Kristen” dengan sendirinya kekristenan menjadi suatu lembaga yang berbeda dengan label “agama” yang lain. Terdapat suatu jedah dan partisi “Kristen” dan “non Kristen”. Partisi-partisi ini bertambah banyak ketika kekristenan sendiri terbagi dalam banyak sekali denominasi gereja. Paling tidak, Gereja Kristen mengalami dua kali perpecahan yang besar: yang pertama terjadi pada tahun 1054 antara Gereja Katolik Timur (Ortodoks Timur ) dengan Gereja Katolik (Barat) yang berpusat di Roma ( Gereja Katolik Roma ). Yang kedua terjadi antara Gereja Katolik dengan Gereja Protestan pada tahun 1517. Dan perpecahan tersebut terus melahirkan denominasi baru hingga mencapai lebih dari 30,000 macam denominasi sekarang ini.

Read the rest of this entry »

Jul 29

For God loved the world so much that he gave his one and only Son, so that everyone who believes in him will not perish but have eternal life. (John 3: 16)

Misi secara harafiah berarti pengutusan untuk melakukan suatu tugas. Belakangan ini kata misi sepertinya kembali menjadi kata favorit di dunia kekistenan. Gereja-gereja sedang menargetkan pertumbuhan jumlah pengikut Kristus di dunia ini. Beberapa punya maksud tulus yakni meneruskan amanat Yesus, sedang yang lain melakukannya demi memperbanyak jumlah anggota jemaat mereka. Terlepas dari maksud dan motivasi, bisa dipastikan sebagian besar orang Kristen memang memikili beban untuk membagi berita Gospel (- dari kata ‘Good Spell’ kabar baik) atau God’s Pill ( obat bernama Tuhan) kepada dunia. Tulisan ini bertujuan untuk menantang asumsi yang ada selama ini mengenai apa dan bagaimana misi sebaiknya dilaksanakan. Penulis tidak memaksakan pembaca untuk setuju sepenuhnya dengan isi tulisan, namun lebih mengundang untuk memikirkan ulang konsep-konsep yang pembaca punya selama ini.

Contoh terbaik untuk mempelajari misi adalah dari Allah sendiri. Bapa di surga telah mengutus Anak-Nya Yesus ke dalam dunia untuk melaksanakan suatu tugas, yakni penebusan manusia. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa Yesus adalah Misionaris terbesar sepanjang sejarah. Melalui cara Bapa mengutus Yesus ke dalam dunia seperti yang diuraikan dalam Yohanes 1 : 9-14 kita bisa belajar mengenai prinsip-prinsip utama dari misi dan penginjilan. Sebenarnya misi sendiri tidak jauh-jauh dari Yes-(it’s)-Us.

Read the rest of this entry »