May 7

Sebuah gedung sekolah di desa kecil yang dilengkapi dengan perapian batu bara kuno yang berbentuk belanga. Seorang anak laki-laki kecil bertugas untuk hadir pagi-pagi sekali di sekolah untuk menyalakan api serta menghangatkan ruangan sebelum guru dan teman-temannya masuk.

Tanpa disadarinya, api yang dinyalakannya terlalu besar sehingga membakar sekolah. Anak laki-laki itu pingsan dan ia pun ditarik keluar dari bangunan yang terbakar. Ia mengalami luka bakar yang parah di seluruh bagian bawah tubuhnya dan dengan segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Dari tempat tidurnya, anak laki-laki itu mendengar secara sayup-sayup apa yang dikatakan dokter kepada ibunya. Dokter itu mengatakan bahwa kemungkinan anaknya untuk hidup sangat tipis sekali, yang sesungguhnya merupakan hal yang terbaik untuknya, karena kalau anaknya hidup, maka dia akan menjadi cacat untuk separuh tubuhnya. Namun anak pemberani itu mengeraskan tekadnya, ia yakin akan hidup dan sembuh seperti semula.

Akhirnya ia keluar dari rumah sakit, dengan tidak memiliki kemampuan untuk menggerakan kakinya sedikitpun. Lalu setiap hari ibunya memijat kaki kecil anaknya itu, namun di sana tidak ada rasa, tidak ada control, tidak ada apapun. Namun niatnya untuk berjalan tetap sekuat dulu. Hari-harinya menjemukan. Bila tidak sedang berada di tempat tidur, ia terkurung di kursi rodanya. Pada suatu hari yang cerah ibunya mendorong kursi rodanya menuju halaman agar ia dapat menghirup udara segar. Hari itu, bukannya duduk terpaku di situ, ia melemparkan diri dari kursi roda. Ia menyeret dirinya sendiri melintasi rerumputan , menarik kedua kakinya di belakang tubuhnya. Ia menyusuri jalan menuju tiang pancang berwarna putih yang membatasi bidang tanah mereka.

Read the rest of this entry »

Jan 20

Tahun lalu merupakan tahun dengan banyak peristiwa mengejutkan, menyedihkan dan menyenangkan buat saya. Tahun-tahun sebelumnya juga demikian dan saya yakin bahwa tahun ini juga akan terjadi seperti itu. Mulai dari teman dan saudara yang sakit, bencana alam, sampai rumitnya permasalahan rumah tangga.

Saat kita diam, tidak ada masalah, semua terlihat baik-baik saja. Namun saat timbul satu masalah, tiba-tiba masalah lain ikut mendongkrak masalah utama sehingga kelihatannya masalah yang kita hadapi semakin banyak. Dan kita, seringkali kita menyalahkan diri sendiri, atau bahkan menyalahkan Tuhan. Saat tidak ada masalah, kita bersyukur pada Tuhan dan mengagumi karya Tuhan. Namun, saat masalah itu timbul, kita tidak bersyukur dan menganggap bahwa Allah diam. Kita mengeluh tentang permasalahan kita dan ingin Dia segera membereskannya untuk kita, namun kita tidak berbuat apa-apa. Kita ingin Dia berbuat sesuatu yang ajaib dan spektakuler pada kita, namun kita tidak berusaha dan hanya berpangku tangan.

Beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan salah seorang teman dekat saya. Kami sedang merencanakan langkah-langkah apa yang akan diambil untuk masa yang akan datang. Saya lalu tiba-tiba teringat akan ucapan salah seorang di gereja yang mengatakan bahwa rencana kita bukanlah rencana Tuhan. Saya tahu bahwa Tuhan merencanakan segala sesuatu. Saya juga tahu bahwa keputusan yang saya ambil juga tidak terlepas dari rencananya. Semua ada di tanganNya. Sekalipun saya merencanakan yang baik-baik, belum tentu itu terjadi, karena jika memang tidak mendapat persetujuan dari Tuhan, maka segala rencana saya akan gagal. Sebaliknya, sekalipun saya merencanakan yang buruk-buruk, belum tentu juga itu akan terjadi, karena belum tentu Tuhan setuju dengan rencana saya tersebut.

Read the rest of this entry »

Dec 21

Minggu kemarin, aku dengar khotbah tentang apa sih yang di rasakan oleh Yusuf dan Maria mulai dari saat mereka diberitahukan mengenai kehamilan Maria sampai dengan kelahiran Yesus di kandang domba.

Aku jadi berpikir, jika aku jadi Maria atau Yusuf, pasti aku akan shock dan setelah itu aku akan membayangkan bahwa kelahiran bayi tersebut akan dirayakan dengan wahh dan megah. Bayangkan seorang Raja akan lahir dalam keluarga aku. Tetapi ternyata, kenyataannya sama sekali berbeda. Maria dan Yusuf harus berada di kandang domba, yang notabene pasti sangat tidak nyaman, bau dan berbagai permasalahan lainnya. Dan kelahiran tersebut tidak dirayakan dengan megah, tetapi hanya gembala, orang Majus dan para binatang yang datang untuk menengok Yesus. Tetapi Maria dan Yusuf tetap gembira menyambut kelahiran Yesus dan bersyukur.

Bagaimana dengan kita ?? Apakah kita tetap bisa seperti Yusuf dan Maria yang tidak berubah hati pada saat kenyataan yang terjadi jauh dari apa yang mereka bayangkan ? Apakah impian, keinginan kita di tahun 2007 ini belum dikabulkan Tuhan ? Bagaimanakah perasaan dan tindakan kita ???

Read the rest of this entry »