Adalah tuntutan ego manusia yang memberi rasa bahagia bila masing-masing individu tersebut diperlakukan dengan prioritas tingkat tinggi. Kekasih menuntut agar diperhatikan lebih oleh pasangannya. Sesama rekan kerja saling bersaing untuk mendapatkan fasilitas dan penilaian prestasi yang terbaik. Ada pula nasabah bank yang sangat puas ketika menikmati fasilitas prioritas dari bank sehingga waktunya tidak terbuang percuma untuk antri panjang. Dari contoh-contoh di atas, saya menarik kesimpulan bahwa prioritas hanya akan diberikan kepada mereka yang berhak mendapatkannya, entah karena sudah membayar dengan suatu harga tertentu atau karena memang sudah menjadi hak yang diperoleh dari status orang tersebut.
Perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. Kalimat tersebut mungkin sudah cukup sering kita dengar namun apakah kita sudah melakukannya dalam keseharian kita? Dan bagaimana dengan motivasi kita saat kita tengah memperlakukan orang lain? Apakah yang menjadi harapan atau pamrih ketika kita memberikan prioritas kepada orang-orang tertentu? Adakah kasih yang mendasari segala tindakan kita?
Pagi ini saya tengah mengalami kecewa dengan seseorang. Permasalahan yang kecil dan sederhana namun saya merasa terkejut atas respon orang tersebut dan jengkel pilihan-pilihannya yang rasanya tidak seimbang dengan prioritas yang saya sudah berikan selama ini. Sejenak saya terbenam dalam gejolak ego yang mengeruhkan ketenangan pikiran; sempat berasumsi tentang seberapa penting diri ini baginya, sempat merengut kesal karena gagalnya beberapa alternatif rencana yang sudah susah payah dipikirkan, bersyukurlah karena saya juga sempat mengingat kenyataan bahwa saya pun sering berlaku tidak adil dan tidak memprioritaskan orang-orang yang membutuhkan prioritas saya. Bahkan yang terlebih parah adalah saya pun sering tidak memprioritaskan sosok pribadi yang jelas-jelas tulus memprioritaskan saya senantiasa.








