Jul 6

Adalah tuntutan ego manusia yang memberi rasa bahagia bila masing-masing individu tersebut diperlakukan dengan prioritas tingkat tinggi. Kekasih menuntut agar diperhatikan lebih oleh pasangannya. Sesama rekan kerja saling bersaing untuk mendapatkan fasilitas dan penilaian prestasi yang terbaik. Ada pula nasabah bank yang sangat puas ketika menikmati fasilitas prioritas dari bank sehingga waktunya tidak terbuang percuma untuk antri panjang. Dari contoh-contoh di atas, saya menarik kesimpulan bahwa prioritas hanya akan diberikan kepada mereka yang berhak mendapatkannya, entah karena sudah membayar dengan suatu harga tertentu atau karena memang sudah menjadi hak yang diperoleh dari status orang tersebut.

Perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. Kalimat tersebut mungkin sudah cukup sering kita dengar namun apakah kita sudah melakukannya dalam keseharian kita? Dan bagaimana dengan motivasi kita saat kita tengah memperlakukan orang lain? Apakah yang menjadi harapan atau pamrih ketika kita memberikan prioritas kepada orang-orang tertentu? Adakah kasih yang mendasari segala tindakan kita?

Pagi ini saya tengah mengalami kecewa dengan seseorang. Permasalahan yang kecil dan sederhana namun saya merasa terkejut atas respon orang tersebut dan jengkel pilihan-pilihannya yang rasanya tidak seimbang dengan prioritas yang saya sudah berikan selama ini. Sejenak saya terbenam dalam gejolak ego yang mengeruhkan ketenangan pikiran; sempat berasumsi tentang seberapa penting diri ini baginya, sempat merengut kesal karena gagalnya beberapa alternatif rencana yang sudah susah payah dipikirkan, bersyukurlah karena saya juga sempat mengingat kenyataan bahwa saya pun sering berlaku tidak adil dan tidak memprioritaskan orang-orang yang membutuhkan prioritas saya. Bahkan yang terlebih parah adalah saya pun sering tidak memprioritaskan sosok pribadi yang jelas-jelas tulus memprioritaskan saya senantiasa.

Read the rest of this entry »

May 27

Masih bisa ingat kah kita waktu pertama kali kita lahir baru dan mengasihi Kristus dengan kasih mula-mula kita? Apa saja yang kita lakukan saat itu sebagai wujud ekspresi cinta kita pada Kristus? Yuk kita coba bagi-bagi kisah ini dengan satu atau dua orang yang ada di sekitar kita saat ini.

Kalau saya, tidak banyak yang saya ingat tentang kisah cinta mula-mula saya dengan Kristus. Saya hanya menjadi lebih rajin untuk berdoa, membaca kitab suci, terbenam dalam pengajaran rasul-rasul dan memperbanyak waktu berkumpul dalam komunitas orang percaya. Rasanya tidak ingin melewatkan sedetik pun tanpa memikirkan atau membahas kasih Kristus yang begitu dahsyat dalam hidup ini. Setiap waktu yang saya lalui terisi dengan senandung ucapan syukur. Hal-hal sederhana mampu membuat saya tersungkur di hadapan Kristus untuk mengucap syukur. Semuanya benar-benar terlihat menakjubkan bagi saya yang saat itu baru saja mengalami kasih mula-mula. Namun sebagai manusia, ada kalanya saya mengalami kejenuhan dan saat-saat seperti itulah saya harus benar-benar waspada karena kasih tersebut sangat rentan untuk luntur atau berkurang kadar antusiasnya.

Mari kita coba baca di kitab Wahyu 2:2-7. Ayat 4 dan 5 sangat menempelak hati saya ketika saya mendalami maknanya.

Read the rest of this entry »

May 18

Seorang saudari seiman pernah berkata pada saya,

God is too wise to be mistaken

God is too good to be unkind

So, when you don’t understand,

When you can’t see his plan

And when you can’t trace His hand

TRUST HIS HEART.

Saat saya membacanya kembali, saya merasa malu. Bukan karena saya malu karena saya tidak bijaksana, bukan juga malu karena saya tidak baik, namun saya malu dengan kadar kepercayaan saya. Saya mungkin sering mengungkapkan bahwa kita harus percaya pada Tuhan, percaya bahwa segalanya akan menjadi baik, percaya bahwa dia mengasihi kita dan Dia akan memberi yang terbaik, percaya bahwa Dia mengasihi kita, namun saat keadaan berubah, saya bimbang.

Saat cobaan menghadang saya, saya merasa ragu. Di satu sisi, saya berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa Allah adalah lebih besar dari apapun. Saya juga sering melakukan self affirmation pada diri sendiri. Saya mengatakan, “Semua akan baik-baik saja, kamu akan melewati semua ini, Tuhan ada di pihakmu”. Memang saya mengatakannya. Mulut saya mengucapkannya berkali-kali. Namun rupanya hati saya tidak.

Read the rest of this entry »

May 7

 

raimond and romulus

Pesan yang dibawa Alkitab sudah cukup jelas bagi kita semua, yakni kekuatan seorang ayah jasmani kita akan membuat kita sadar akan kemampuan Abba kita di Surga yang mengatasi segala sesuatu, dan kelemahan ayah jasmani kita akan membuat kita semakin sadar bahwa cuma Abba di Surga lah satu-satunya ayah ideal yang bisa kita harapkan.” - JED-ReVoLuTiA

Kenangan akan figur seorang ayah adalah sesuatu yang membekas seumur hidup seseorang. Itu jugalah yang menjadi alasan dua orang penulis kenamaan, Blake Morrison dan Raimond Gaita, menulis sebuah buku memoar mengenang ayah. Baik atau buruknya seorang ayah, tidak bisa dipungkiri, bahwa dirinya adalah pengaruh terbesar bagi hidup seseorang. Melalui film yang dibuat berdasarkan novel kisah nyata mereka, Morrison bercerita lewat “And When Did You Last See Your Father?” dan Gaita lewat “Romulus, My Father“.

And When Did You Last See Your Father?” bercerita mengenai pergumulan Blake Morrison dengan ayahnya, Arthur, selama minggu-minggu menjelang kematian sang ayah. Blake memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Yorkshire setelah mendengar diagnosa dokter yang mengatakan ayahnya sudah mendekati kematian akibat kanker yang menggerogoti tubuhnya. Kembali pulang ke rumah demi menemani ibunya mengurus sang ayah yang dalam kondisi kritis membuat dia banyak merenung mengenai hubungannya dengan sang ayah. Mulai dari figur ayah yang ideal di matanya ketika dia masih kanak-kanak dan figur ayah yang rusak ketika dia bertumbuh dewasa dan mempelajari kedekatan ayahnya dengan wanita lain yang sangat amat bergantung pada ayahnya untuk kebutuhan emosionalnya. Blake senantiasa berteori mengenai perselingkuhan ayahnya, membenci ibunya karena kepasrahannya, dan melarikan dirinya dengan hubungan intim dengan pembantu rumah tangga di rumah mereka.

Read the rest of this entry »

Apr 26

Suatu malam, Yesus dan murid-murid sedang berada di Bukit Zaitun. Tidak ada yang aneh dalam pertemuan itu karena seperti biasa mereka akan berbincang-bincang dengan Sang Guru yang mereka ikuti selama ini. Tiba-tiba saja Sang Guru mulai berkata yang seram-seram, “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.” Mereka pun terdiam dan mulai bertanya-tanya apa yang Sang Guru maksud dengan gembala yang terbunuh dan mereka yang akan tercerai berai.

Petrus mulai menangkap arah pembicaraan dan mulai membuat pernyataan keras, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.

Sebuah pernyataan yang mungkin sudah dapat ditebak dari seseorang yang berbicara dengan semangat berapi-api seperti Petrus. Semua terdiam menunggu bagaimana reaksi dari Sang Guru. Mereka pun teringat beberapa bulan silam dimana Petrus membuat semua orang kaget akan peryataan dia yang berani. Pada waktu itu Yesus bertanya kepada semua muridnya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Pertanyaan yang membuat semua murid berpikir keras setelah semua spekulasi yang beredar bahwa Sang Guru adalah jelmaan dari Elia, Yeremia, atau nabi lain terjadi ketika Sang Guru melanjutkan pertanyaanya dengan sebuah pertanyaan yang sangat mengganggu, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?

Read the rest of this entry »

« Previous Entries