Mar 29

Apa bagusnya dari pincang? Ga ada. Apa bagusnya dari dirawat di rumah sakit? Banyak. Selama kaki patah, ada hal2 seru yang jadi pelajaran buat gue. Di rumah sakit, gue kenalan sama beberapa dokter muda dan suster. Sempet jualan baso ke beberapa orang. Gue juga dapat temen baru, cucu dari pasien di ranjang sebelah gue. Ntar kalo udah sembuh kakinya, gue mo berkunjung ah.

Gue juga dibukakan satu hal tentang keberhargaan diri gue di mata orang-orang sekitar gue. Ada yang sangat sayang ama gue dan ada juga yang tidak perduli, tidak toleran bahkan malah menekan gue padahal kondisi gue sangat tidak memungkinkan untuk memenuhi permintaan sekelompok orang tersebut (walaupun gue udah berusaha semampu gue!). Ga usah bahas deh tentang kelompok orang yang ini karena hanya akan bikin bete aja, gue hanya bisa berserah dan pasrah dalam menghadapi mereka. (Ampuni kami ya Bapa jika antara kami ada yang tidak berkenan padaMu.)

Gue juga belajar untuk melihat keadaan dari sisi seorang yang pincang kakinya. Ternyata respon masyarakat lokal masih belum sebagus respon turis asing ya. Kejadiannya waktu gue nekat ibadah hari minggu yang lalu. Gue ibadah di hotel yang ternyata ga menyediakan fasilitas kursi roda buat tamu yang pake kursi roda (ga kayak di Gajahmada Plaza). Mau ga mau gue harus pake tongkat ke lantai 2, thank God ada lift! Berhubung gue ga pengalaman pake tongkat, maka kebayang dong betapa susah berayun sambil mengendalikan berat bodi gue yang buntel ini. Pas pulang ibadah begitu keluar lift, gue mendadak terhenti karena ada dua nona pengapit cantik sibuk pencet2 hp dan rapih2 gaun; mereka mejeng depan gue tanpa mau minggir walau udah dibilang permisi. Setelah antri, akhirnya mereka pun minggir dan gue bisa lewat. Baru beberapa langkah, ada bule yang passed me by. Bule ini ga melakukan kesalahan apa2, tapi bule ini berhenti mendadak, say sorry dan tunggu sampe gue melewati dia. Lain halnya waktu gue mampir ke GM, wuih gue seperti orang yang ada stempel MENULAR aja gitu. Bahkan ada dua anak kecil yang dengan polos bilang ke ortunya waktu liat gue, ITU KAN ORANG LUMPUH, MENULAR KAN?

Read the rest of this entry »

Feb 27
Love in your marriage

Love in your marriage

Beberapa bulan yang lalu seorang rekan di tempat kerja menanyakan sesuatu kepadaku  saat jam istirahat.  Suatu pertanyaan yang aneh, dan tidak terduga sebelumnya.  Dia bertanya demikian, “Apa yang kamu takutkan dalam hidup perkawinanmu?”  Spontan saja aku menjawabnya, “Kematian.”  Dia termangu-mangu dan tampak sedikit bimbang dengan ucapanku.  Melihat responnya, langsung saja aku bertanya balik kepadanya dengan pertanyaan yang sama, “Bagaimana denganmu?  Apa yang kamu takutkan dalam hidup perkawinanmu?”  Aku melihat sedikit ada rasa khawatir dalam sikapnya. Dia pun akhirnya menjawab pertanyaannku dengan sedikit keraguan, “Perceraian.”  Aku terdiam sesaat setelah mendengar jawabannya, sambil mencoba menikmati secangkir kopi ber-cream di depanku.  Aku menghela napas.  Dalam kebisuan bersama akhirnya aku mencoba memecahkan keheningan itu.

Pertanyaanku berikutnya bisa jadi sedang ditunggunya, atau malahan menjadi momok baginya karena mau tidak mau dia paling tidak akan menceritakan sedikit permasalahannya.  “Ada apa dengan kehidupan perkawinanmu?” pertanyaanku lirih tetapi cukup menhentaknya.  Sedikit terbawa emosi tampaknya, ia pun spontan berkata, bahwa dia sudah tak ada rasa cinta lagi kepada suaminya.  “Lho, kok bisa?  Memangnya cintamu sudah dikemanakan?” tanyaku lagi menyelidik.  Akhirnya rekanku tersebut menceritakan apa adanya.  Tentu tidak terlalu mendetail, karena jam istirahat akan berkahir, tetapi paling tidak aku sudah mendapatkan kesimpulan penyebabnya.

Read the rest of this entry »

Dec 19

Lama sekali rasanya sejak terakhir saya datang kesini dan menulis di halaman ini. Lamaa sudah rasanya. Terkadang saya merasa kangen, tapi otak saya seakan engga menemukan barang sebaris ide pun untuk dibagikan disini. Well..terkadang kemauan dan kenyataan terlalu sering tidak seiring sejalan.

Desember sudah datang, bahkan sudah berlari separuh jalan. Natal akan segera tiba lagi.. lonceng digereja saya bahkan sudah bergema dan hiasan-hiasan Natal sudah dikeluarkan dari kotaknya. Lagu-lagu Natal sudah sering terdengar “O..Gloria”, “Rejoice”, “Joy To The World”..Minggu lagu saya tersenyum sendiri menyaksikan antusiasme anak-anak sekolah Minggu berlatih tari untuk perayaan Natal. Musik terdengar mengalun ..”joy to the world, the Lord has come..”

Yeah, i will joy. i will sing, tapi entah kenapa hati saya terasa lain. Damai yang dihiasi dengan beban. Tidak indah sama sekali memang. Tahun 2008 adalah tahun yang cukup berat. Masalah demi masalah datang silih berganti, dan saya sama sekali tidak dapat mempercayai seorangpun untuk mengadu dan mengaku kalah. Bahkan tidak kepada Tuhan. Kenapa ya? Apa saya terlalu arogan?

Read the rest of this entry »

Oct 20

Kalau saya menyebutkan kata “penyembahan”, bayangan apa yang ada di benak anda? Tergantung pada latar belakang anda, mungkin anda pikir tentang kebaktian gereja dengan nyanyian / pujian, doa, dan mendengarkan khotbah. Atau anda mungkin pikir tentang upacara, lilin, dan perjamuan. Yesus menjelaskan tentang penyembahan yang sangat berbeda jauh dari perkiraan kita.

Suatu saat ada orang yang bertanya kepada Yesus, “Perintah manakah yg terpenting dari taurat?” Yesus menjawabnya dengan berkata,” Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Perintah kedua adalah: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:35-39)

Yesus mengatakan bahwa mengasihi Allah dengan segenap keberadaan kita adalah tujuan pertama dan utama dalam hidup manusia. Ini adalah penyembahan sejati. Penyembahan adalah mengasihi Allah,, Penyembahan adalah segala aspek kehidupan kita yang mendatangkan kesenangan bagi Allah. Semua hal lainnya, seperti musik, nyanyian, doa, dan lain-lain hanyalah sebagian kecil saja dari penyembahan. Penyembahan yang sejati adalah apa yang terjadi di dalam hati kita lalu kita mengekspresikan ke dalam tindakan-tindakan nyata dalam kehidupan.

Read the rest of this entry »

Jul 6

Adalah tuntutan ego manusia yang memberi rasa bahagia bila masing-masing individu tersebut diperlakukan dengan prioritas tingkat tinggi. Kekasih menuntut agar diperhatikan lebih oleh pasangannya. Sesama rekan kerja saling bersaing untuk mendapatkan fasilitas dan penilaian prestasi yang terbaik. Ada pula nasabah bank yang sangat puas ketika menikmati fasilitas prioritas dari bank sehingga waktunya tidak terbuang percuma untuk antri panjang. Dari contoh-contoh di atas, saya menarik kesimpulan bahwa prioritas hanya akan diberikan kepada mereka yang berhak mendapatkannya, entah karena sudah membayar dengan suatu harga tertentu atau karena memang sudah menjadi hak yang diperoleh dari status orang tersebut.

Perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. Kalimat tersebut mungkin sudah cukup sering kita dengar namun apakah kita sudah melakukannya dalam keseharian kita? Dan bagaimana dengan motivasi kita saat kita tengah memperlakukan orang lain? Apakah yang menjadi harapan atau pamrih ketika kita memberikan prioritas kepada orang-orang tertentu? Adakah kasih yang mendasari segala tindakan kita?

Pagi ini saya tengah mengalami kecewa dengan seseorang. Permasalahan yang kecil dan sederhana namun saya merasa terkejut atas respon orang tersebut dan jengkel pilihan-pilihannya yang rasanya tidak seimbang dengan prioritas yang saya sudah berikan selama ini. Sejenak saya terbenam dalam gejolak ego yang mengeruhkan ketenangan pikiran; sempat berasumsi tentang seberapa penting diri ini baginya, sempat merengut kesal karena gagalnya beberapa alternatif rencana yang sudah susah payah dipikirkan, bersyukurlah karena saya juga sempat mengingat kenyataan bahwa saya pun sering berlaku tidak adil dan tidak memprioritaskan orang-orang yang membutuhkan prioritas saya. Bahkan yang terlebih parah adalah saya pun sering tidak memprioritaskan sosok pribadi yang jelas-jelas tulus memprioritaskan saya senantiasa.

Read the rest of this entry »

« Previous Entries