“Bukan kebetulan juga sang juruselamat dunia, Yesus Kristus, dilahirkan bersamaan dengan awal dari gerakan terorisme di dunia.”– JED-ReVoLuTiA
“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar—tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati—.Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:6-8)
Injil Lukas pasal 2 mencatat sebuah peristiwa pada masa kekaisaran Romawi dipimpin oleh Agustus dan Kirenius menjadi wali negeri di daerah Siria (mencakup juga Judea) dimana sensus penduduk dilahirkan. Kita semua ingat kisah ini sebagai kisah Natal dimana Yusuf membawa isterinya Maria ke kampung halaman mereka di Betlehem dan pada akhirnya bayi Yesus dilahirkan di Kota Daud. Fakta sejarah mencatat bahwa sensus tersebut telah juga melahirkan sebuah gerakan pemberontakan di Yudea yang dipimpin oleh seseorang bernama Yudas dari Galilea. Kelompok yang dipimpin oleh Yudas orang Galilea ini kemudian disebut sebagai orang-orang Zelot.
Menyimak musibah gempa pada hari Senin tanggal 12 Mei 2008 yang berkekuatan “8.3 Skala Richter” di kawasan pegunungan yang jaraknya sekitar 100 km dari kota berpenduduk 10juta jiwa, di Chengdu, ibukota provinsi Sichuan - China. Setiap hari non-stop beritanya di TV lokal CCTV menceritakan 1001 kisah-kisah yang menyentuh, dan didalamnya pula kita dapat melihat rasa solidaritas kemanusiaan dan penanganan musibah yang terkoordinasi dengan sangat baik. Dari banyaknya kisah yang diliput, ada satu kisah yang ingin saya bagikan yang menunjukkan betapa satu nyawa itu sungguh berharga. Tentara-tentara muda dan relawan tak kenal lelah menyisir puing-puing reruntuhan bangunan, mengambil mayat-mayat dan mencari-cari orang-orang yang masih bisa tertolong nyawanya.






