Kekristenan adalah relasi (hubungan) dan relasi adalah segalanya. Kristianitas menempatkan relasi dan bukan aturan-aturan agamawi. Kristianitas meyakini hubungan pribadi melebihi filosofi dan aktifitas keagamaan. Relasi kita dengan Allah yang menciptakan kita adalah segala-galanya. Yesus berkata bahwa “hukum” yang paling utama adalah mengasihi Allah, lalu diikuti mengasihi sesama kita. Tiada lain, Hukum Kristus adalah relasi! Dan ibadahnya bukanlah ritus-ritus aturan, melainkan relasi kasih diantara makhluk dengan Sang Khalik dan antara makhluk dengan makhluk dan. Itulah sistem dan “aturan”Nya yang terutama. Relasi tidak akan terjadi tanpa komunikasi. Doa adalah sarana komunikasi kita dengan Allah. Dan komunikasi ini tidak hanya berlaku secara vertikal melainkan juga secara horizontal, yaitu komunikasi antar sesama.
Ketika Kekristenan berubah menjadi institusi keagamaan dan menjadi “agama Kristen” dengan sendirinya kekristenan menjadi suatu lembaga yang berbeda dengan label “agama” yang lain. Terdapat suatu jedah dan partisi “Kristen” dan “non Kristen”. Partisi-partisi ini bertambah banyak ketika kekristenan sendiri terbagi dalam banyak sekali denominasi gereja. Paling tidak, Gereja Kristen mengalami dua kali perpecahan yang besar: yang pertama terjadi pada tahun 1054 antara Gereja Katolik Timur (Ortodoks Timur ) dengan Gereja Katolik (Barat) yang berpusat di Roma ( Gereja Katolik Roma ). Yang kedua terjadi antara Gereja Katolik dengan Gereja Protestan pada tahun 1517. Dan perpecahan tersebut terus melahirkan denominasi baru hingga mencapai lebih dari 30,000 macam denominasi sekarang ini.
Read the rest of this entry »