May 7

 

raimond and romulus

Pesan yang dibawa Alkitab sudah cukup jelas bagi kita semua, yakni kekuatan seorang ayah jasmani kita akan membuat kita sadar akan kemampuan Abba kita di Surga yang mengatasi segala sesuatu, dan kelemahan ayah jasmani kita akan membuat kita semakin sadar bahwa cuma Abba di Surga lah satu-satunya ayah ideal yang bisa kita harapkan.” - JED-ReVoLuTiA

Kenangan akan figur seorang ayah adalah sesuatu yang membekas seumur hidup seseorang. Itu jugalah yang menjadi alasan dua orang penulis kenamaan, Blake Morrison dan Raimond Gaita, menulis sebuah buku memoar mengenang ayah. Baik atau buruknya seorang ayah, tidak bisa dipungkiri, bahwa dirinya adalah pengaruh terbesar bagi hidup seseorang. Melalui film yang dibuat berdasarkan novel kisah nyata mereka, Morrison bercerita lewat “And When Did You Last See Your Father?” dan Gaita lewat “Romulus, My Father“.

And When Did You Last See Your Father?” bercerita mengenai pergumulan Blake Morrison dengan ayahnya, Arthur, selama minggu-minggu menjelang kematian sang ayah. Blake memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Yorkshire setelah mendengar diagnosa dokter yang mengatakan ayahnya sudah mendekati kematian akibat kanker yang menggerogoti tubuhnya. Kembali pulang ke rumah demi menemani ibunya mengurus sang ayah yang dalam kondisi kritis membuat dia banyak merenung mengenai hubungannya dengan sang ayah. Mulai dari figur ayah yang ideal di matanya ketika dia masih kanak-kanak dan figur ayah yang rusak ketika dia bertumbuh dewasa dan mempelajari kedekatan ayahnya dengan wanita lain yang sangat amat bergantung pada ayahnya untuk kebutuhan emosionalnya. Blake senantiasa berteori mengenai perselingkuhan ayahnya, membenci ibunya karena kepasrahannya, dan melarikan dirinya dengan hubungan intim dengan pembantu rumah tangga di rumah mereka.

Read the rest of this entry »

Mar 6

Kebutuhan terbesar manusia ialah untuk dikasihi. Sejak kita lahir hingga meninggal, kita sangat merindukan yang namanya penerimaan, pengakuan, dan perhatian. Seringkali motivasi terdalam kita untuk berbuat sesuatu di luar standar kenormalan ialah agar kita dapat diterima, diakui, dan diperhatikan. Seringkali saat-saat terburuk kehidupan kita, dimana kita menagis dan meratap tiada henti, bukanlah saat kita mengalami suatu musibah atau masalah berat, namun pada saat kita merasa tidak diterima, diperhatikan, atau diakui. Kerinduan terdalam kita ialah agar kita bisa mendapat kasih dari orang-orang yang kita anggap penting bagi kita, entah itu sahabat, kekasih, atau pemimpin. Tapi seringkali luka terdalam dalam hati kita ada ketika kita tidak mendapat kasih yang sepatutnya dari orangtua kita. Hidup kita bagaikan neraka ketika kita merasa tidak diterima, diakui, atau diperhatikan oleh orangtua kita.

Orang-orang yang besar dengan tidak mendapatkan kasih yang sepatutnya dari orangtua seringkali adalah orang-orang yang paling nekat dan ambisius dalam kehidupan. Sepanjang hidupnya dia akan berjuang mati-matian dalam studi, pekerjaan, olahraga, atau apapun juga hanya demi mendapat pengakuan sebagai kebanggaan orangtuanya. Oleh karena itu, mereka menyusahkan diri mereka dengan segala upaya yang tidak perlu hanya demi sebuah pengakuan dan penerimaan dari orangtua mereka. Keinginan setiap orangtua ialah agar anak mereka menjadi atau melebihi mereka dalam segala hal. Dan hampir semua orang di dunia ini telah mengeluarkan semua energi yang ada, demi untuk sebuah pengakuan, sebuah kasih sayang, sebuah penerimaan.

Read the rest of this entry »