Siapakah yang menguasai hatiku? Belakangan ini selalu saja pertanyaan ini muncul. Binun juga jawabnya karena aku pun tak tau mau menyebut siapa penguasanya. Secara logika, harusnya aku berkata kalau Kristus-lah yang menjadi penguasa hatiku, namun aku harus jujur padaNya.
Saat aku merasa iri hati, maka keinginan dagingku-lah yang menjadi penguasa hatiku. Saat aku merasa rendah diri, maka intimidasi-lah yang menjadi penguasa hatiku. Saat aku merasa sakit hati dan tidak mau mengampuni, maka aku telah menyangkali karya salib Kristus. Saat aku lebih memilih untuk membeli apapun yang aku suka padahal belum tentu aku perlukan, maka aku telah menjadikan keinginan mata sebagai penguasa hati ini. Saat aku meremehkan orang lain, maka hati ini telah dikuasai oleh keangkuhan hidup. Saat aku lebih memikirkan pasanganku daripada Tuhan, maka aku telah mempunyai berhala dalam hidupku. Saat aku kembali jatuh dalam dosa, maka aku mengingkari darah penebusan yang sudah Kristus berikan padaku secara gratis.
Apakah yang paling kuanggap berharga dalam hidup ini? Logika ini tentunya memilih TUHAN sebagai sosok yang paling berharga dalam hidup ini, namun dalam praktek sehari-hari aku seringkali memilih yang lain.








