Seorang saudari seiman pernah berkata pada saya,
God is too wise to be mistaken
God is too good to be unkind
So, when you don’t understand,
When you can’t see his plan
And when you can’t trace His hand
TRUST HIS HEART.
Saat saya membacanya kembali, saya merasa malu. Bukan karena saya malu karena saya tidak bijaksana, bukan juga malu karena saya tidak baik, namun saya malu dengan kadar kepercayaan saya. Saya mungkin sering mengungkapkan bahwa kita harus percaya pada Tuhan, percaya bahwa segalanya akan menjadi baik, percaya bahwa dia mengasihi kita dan Dia akan memberi yang terbaik, percaya bahwa Dia mengasihi kita, namun saat keadaan berubah, saya bimbang.
Saat cobaan menghadang saya, saya merasa ragu. Di satu sisi, saya berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa Allah adalah lebih besar dari apapun. Saya juga sering melakukan self affirmation pada diri sendiri. Saya mengatakan, “Semua akan baik-baik saja, kamu akan melewati semua ini, Tuhan ada di pihakmu”. Memang saya mengatakannya. Mulut saya mengucapkannya berkali-kali. Namun rupanya hati saya tidak.
Saya menjadi orang yang meragukan Dia. Buat orang lain, mungkin hal ini biasa, namun buat saya ini memalukan. Buat saya ini merupakan sebuah kemunafikan. Bagaimana mungkin saya dapat berusaha membuat orang lain meyakini kasih Tuhan, meyakini kuasa Tuhan, yang sebenarnya tidak perlu diragukan lagi, tetapi saya sendiri tidak mempercayainya dari hati.
Hari ini saat saya menghadiri pertemuan, di sana saya merasakan kasih Tuhan sekali lagi. Di mana, Tuhan -yang sebenarnya tidak perlu jauh-jauh dari tahtanya yang tinggi itu- rela meninggalkan kedudukanNya yang tinggi, namun malah mau menjadi manusia untuk menyelamatkan saya, orang berdosa yang seharusnya binasa.
Saya membayangkan, jika ada seseorang yang bertindak tidak adil pada saya, membuat saya sedih, dan membuat saya jatuh dalam kekecewaan yang mendalam, saya tidak mungkin memaafkannya sedemikian. Jangankan memaafkan, melihat wajahnya atau mendengar suaranya saja mungkin saya langsung ingin marah. Tapi Dia berbeda.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh :16)
AnakNya yang tunggal. Bayangkan saja, orangtua mana yang rela anak tunggalnya diserahkan untuk disiksa, disalibkan, hanya untuk sekelompok orang berdosa yang tidak ternama. Tapi Dia merelakanNya. Untuk siapa? Untuk kita. Supaya kita tidak binasa tapi beroleh keselamatan dan kehidupan kekal.
Dengan kasih yang sebesar demikian, bagaimana mungkin saya meragukan? Dengan kasih yang tiada tandingan seperti itu, bagaimana mungkin hati saya masih bimbang? Saat saya membaca kembali kutipan dari saudari tersebut, saya ingin menangis. Saya telah banyak meragukan Dia. Jika Dia bisa melakukan hal yang sedemikian, maka Dia pasti bisa membawa saya melewati setiap rintangan dan hambatan. Dengan kasihNya yang begitu besar, mana mungkin Dia akan membiarkan saya jatuh tanpa pertolongan?
Dia cukup tahu saat yang tepat dan Dia cukup tahu pertolongan yang tepat untuk setiap rintangan kita. Saya ingin belajar untuk mempercayai kasihNya. Saya ingin belajar untuk tidak ragu dan bimbang terhadap Dia. Melalui setiap proses yang Tuhan berikan, saya yakin bahwa Dia ingin membawa saya terus maju untuk mencapai pengharapan yang mulia. Dan jika semuanya tidak berjalan sesuai dengan keinginan saya, saya ingin belajar untuk mempercayai hatiNya.
















